FF MinSul : Goodbye Summer Chapter 1
“CHOI
MINHO.. KAU KAN MENCORET-CORET KAMUS BAHASA INGGRISKU?” teriak Sulli, gadis itu
biasanya sangat manis, apalagi kalau dia sedang tersenyum tapi kalau dia sedang
marah seperti ini, apalagi saat ia memajukan bibirnya seperti itu, ia malah
terlihat semakin manis, lama-lama cara berpikirku seperti seorang maniak.
Mengerikan.
“ENAK
SAJA KAU ASAL BICARA, MANA BUKTINYA?” aku mencoba mengelak tapi sepertinya
nanti aku akan tetap kalah, lihat saja nanti. Padahal aku kan tidak sengaja
melakukannya, aku hanya membantunya menghias bukunya, kamus tebal itu tampak
membosankan.
“Kau
pikir aku bodoh? Ini kan tulisanmu! Dan siapa lagi yang menggambar dengan cara
aneh begini, hah?”
Nah kan
apa yang kubilang barusan..
“Kau
menuduhku? Wah kejam sekali, siapa tahu orang lain yang melakukannya? Kenapa
kau hanya menuduhku?”
“Sudah
jelas – jelas kan? Kenapa kau masih mengelak juga?”
“CHOI
MINHO, CHOI SULLI! Ikut aku ke Ruang Guru..” Lee Saem memergoki kami bertengkar
lagi di aula, aku melirik Sulli yang tampak amat kesal, lalu menjulurkan
lidahku untuk mempermainkannya, aku merasakan tatapan tajamnya, dan tanpa aku
kira, ia menginjak kakiku dengan kekuatannya yang luar biasa.
“ARGH,
YA! Choi Sulli!”
Kali ini
Sulli yang menjulurkan lidahnya kepadaku, aku menghela napas pasrah saat Lee
Saem meneriaki kami berdua lagi dengan suara super powernya.
“YA! Duo
Choi!”
Aku
mendorong kepala Sulli sambil melangkah maju, gadis itu manangkis tanganku lalu
memukul pinggangku dengan tangan mungilnya, mana ada tangan yang begini kecil
memiliki tenaga yang amat besar?
-Goodbye Summer-
“Masalahnya
Saem, kami ini tadi tidak bertengkar, aku dan Sulli saling menyayangi, kau
lihat kan Saem?” Aku melingkarkan tanganku dipundaknya, ia ingin menagkisnya
lagi, jadi aku makin mengeratkan pelukan kami sambil menebar senyum ke arah Lee
Saem yang sedang mengelus-ngelus perutnya dengan melemparkan pandangan
menyeramkan.
“Ne
Songsaenim, lagipula kasihan bayimu kalau kau terus marah-marah, ya kan,
Minho?” kata Sulli sambil membuat senyum palsunya. Cih gadis ini benar-benar.
Lee Saem
berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, ia menarik napasnya perlahan sambil
memandang sayang foto buah hatinya yang masih ada di dalam perutnya yang
buncit.
Sulli
POV
“Baiklah,
demi bayiku aku tidak akan memarahi kalian lebih lama lagi, tapi jika kalian
ketahuan membuat keributan lagi aku akan..” Minho dengan sigap mengambil kipas
kertas Lee Saem, lalu mengipasi guru bahasa korea itu dengan gaya yang sangat
norak sementara Lee Saem tampak mulai menikmatinya. Aku berusaha menahan gelak
tawaku saat Minho menatapku dengan tatapan tajamnya, menyuruhku untuk diam.
Tapi
karena Minho tidak fokus melihat kea rah Lee Saem, tanpa sengaja ia malah
menyenggol vas bunga kristal diatas meja kerjanya, Aku melihat guru sekaligus
wali kelas kami itu dengan tatapan ngeri, Minho meraih tanganku, aku
mengganggukkan kepala dengan siap saat Lee Saem mulai mengeluarkan asap dari
lubang telinganya.
-Goodbye
Summer-
Intinya.
Kami harus mengepel seluruh koridor di lantai satu, juga membersihkan ruang
guru, khususnya meja Lee Saem tentunya. Kakiku rasanya akan patah sebentar
lagi, kulihat Minho masih saja mengepel lantainya sampai mengkilap, aku rasa ia
telah menemukan bakat pribadinya yang lain.
Udara
rasanya lebih panas dari biasanya, rasanya seperti dipanggang diatas bara api.
“Jangan
hanya duduk-duduk saja, Bodoh, cepat bantu aku.” Hardiknya ketika aku ketahuan
melepas sepatuku lalu duduk dengan santainya di bagian lantai yang telah
mengkilap.
Aku
menghela napas lalu mengelap keringat fiktif, Minho memutar bola matanya lalu
menghampiriku sambil membawa-bawa kain pel.
“Cepat
berdiri, kita tinggal membersihkan pojok sana lalu pulang..” katanya sambil
menarik tanganku.
Aku
mengeluh tapi akhirnya berdiri juga, ia yang lebih banyak membersihkan
lantainya daripada aku, aku bisa melihat wajah kelelahannya, rasa kasihan mulai
melingkupiku, lalu aku mengucapkan kata-kata yang langsng kusesali detik
berikutnya.
“Minho,
aku akan membersihkan sisanya..”
“Benarkah?
Kalau begitu aku pulang dulu, annyeong.. Selamat membersihkan Suli-ya..” Ia
melambaikan tangannya yang sangat besar seperti tempat sampah, lalu melarikan
diri tepat ketika aku bersiap melemparnya dengan sepatu kets ku.
-Goodbye
Summer-
Aku
menatap langit yang semakin lama semakin gelap, udara sudah tidak sepanas tadi,
mulai ada angin sejuk yang bertiup, aku menendang batu kerikil sambil melewati
jalanan menuju gerbang sekolah yang amat sepi itu untuk mengalihkan perhatian,
sebenarnya aku agak membenci gelap, selalu ada perasaan waspada dari tempat
yang tidak diterangi lampu neon kecil milik sekolah, aku tidak berani menegakan
kepalaku dan hanya berkonsentrasi pada lagu yang mengalun dari earphone-ku.
“Cho
Minho sialan, kalau tadi dia tidak seenaknya meninggalkan pekerjaan kepadaku
sendiri.. Awas saja kalau besok bertemu, aku akan menendangnya seperti ini.”
Aku menendang kerikil di depanku dengan kencang.
“AW!”
Aku
mendengar suara seorang pria dari bagian gelap jalanan sekolah, jantungku
seperti akan melompat dari rongganya, aku tidak berani melihat kearah suara
tadi, sambil memejamkan mata aku memercepat langkahku, namun tiba-tiba aku
merasa ada yang mengikutiku.
Ia
semakin mendekat, aku bisa mendengar suara langkahnya yang semakin jelas..
Ia
memegang bahuku, aku sudah bersiap untuk memukul hantu itu dengan tasku yang
beratnya sepertu sekarung beras..
Kalau kupukul dia kesakitan tidak, ya?
"Ciaaaaaat.. RASAKAN HANTU SIALAAAAAN!"
TBC



Comments
Post a Comment