FF KaiHun : Miracle In December
“Jongin, apakah ‘Miracle In December’ itu benar-benar ada?”
Jongin menyembunyikan ringisan di wajahnya. Bagaimana bisa seseorang yang sudah
mahir minum berbotol-botol suju tempo hari masih saja berpikir seperti itu?
“Tentu saja ada,” Sehun membulatkan matanya polos, lelaki
berkulit tan di depannya berpikir bahwa fans mereka akan kaget dan pingsan ditempat
melihat seorang Oh Sehun bisa berekspresi seperti itu, “sama besar
kemungkinannya seperi aku benar-benar bisa berteleportasi dan kau bisa
mengeluarkan angin dari tanganmu.
Sehun mendengus sebal lalu melempari Jongin dengan jam
wekernya.
“Jangan macam-macam denganku Oh Sehun..” Si Magnae sama
sekali tidak terpengaruh dengan gertak sambal Jongin lalu membalikan badannya
menghadap ke tembok. Ia merapatkan badannya seraya menempelkan dahinya, dingin,
rasanya seperti sedang dikompres.
“Memangnya kenapa?” kali ini Jonginlah yang memulai
pembicaraan, ia berbaring beberapa menit namun belum juga bisa tidur, mungkin
karena cidera pinggangnya kambuh lagi tapi ia terlalu kesakitan untuk bergerak
dan mengambil obat.
“Tidak apa-apa.. Ku pikir kalau itu benar-benar ada, dan
kekuatan kita nyata pasti akan asyik sekali, ya kan?” Sehun membalikkan
badannya, berbalik menatap Jongin yang masih setia memandang langit-langit
sambil meringis.
“Cidera mu lagi?” Jongin tidak berkata apa-apa, tapi Sehun
mulai beranjak dari ranjangnya, bergerak dengan cepat ke rak-rak di sebrang
tempat tidur. Ia menyalakan lampu lalu mencari obat penghilang rasa sakit milik
Jongin dan juga segelas air.
“Jangan didiamkan begitu saja dong, aish kau ini.. Selalu
saja tidak peduli pada dirimu sendiri..” Sehun menyodorkan obat dan segelas air
pada Jongin lalu membantunya duduk dan minum.
“Well, kurasa aku akan tidur di
sini supaya punggungmu ikut hangat..”
Jongin memutar bola matanya tapi akhirnya ia juga bergeser
dan memberi Sehun ruang yang cukup untuk mereka berdua.
“Trims Oh Sehun, kau baik sekali..”
“Sudah cukup, itu menjijikan..” Jongin terkekeh dan
menyelimuti mereka berdua.
“Memangnya kau ingin meniupi siapa dengan kekuatan angin
bodohmu itu?” ujar Jongin dengan nada mengejeknya yang biasa. Sehun memukul
pelan pundak namja itu. “Kau tahu Jongin, kekuatanmu itu yang paling konyol
tahu, jadi jangan menghina angin-ku!”
“Aku bisa keluar negri tanpa harus naik pesawat..”
“Aish, tutup mulut! Berhentilah pamer dan tidurlah..”
“Ne, ahjumma..”
“Sialan kau..”
“Memangnya kalau kita sungguh-sungguh punya kekuatan itu,
apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau pikir keajaiban bisa terjadi?” tanya
Jongin lagi memecah keheningan di antara mereka. Sehun susah memejamkan matanya
namun ia tahu kalau dia masih sepenuhnya sadar.
“Aku ingin meminjam kekuatan Tao, aku ingin kembali ke masa
lalu dan mencegah semua hal buruk terjadi, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan
kalian, aku ingin bilang pada Kris Hyung dan juga Luhan Hyung untuk tidak per..” Sehun tidak bisa
melanjutkan kata-katanya. Jongin membeku di sampingnya, malam itu tak begitu dingin tapi ia
gemetaran. Jongin meraih tangan Sehun dan menggenggamnya erat.
“Aku ingin keajaiban itu benar-benar terjadi.. Lalu mereka
bisa kembali pada kita, berkumpul lagi seperti dulu..”
Gerimis turun di kedua mata mereka.
“Apa kau merindukan Luhan Hyung?”
“Ya.”
“Tapi kau tahu kalau keajaiban itu tak akan mungkin terjadi
kan? Mereka sudah memilih untuk pergi, kau tahu itu Sehun?” Jongin merasakan
jejak-jejak air mata Sehun membasahi kaosnya karena sosok yang lebih muda itu menyembunyikan
wajahnya disana.
“Aku tahu. Aku hanya ingin bersikap konyol padamu malam
ini..”
Hening menyelimuti mereka berdua, dan hujan belum juga
berhenti.
“Tidurlah. Besok aku akan menelepon Luhan Hyung diam-diam
untukmu.”
“Terima kasih, Jongin..”
“Sama-sama..”
“Kau pikir apa dia akan mengangkatnya?”
“Kau pasti bercanda kan? Well, kau tahu bahwa kau masih jadi
adik favoritnya..”
Perlu waktu lama untuk Sehun menjawabnya. “Aku tidak pernah
tahu, hati manusia kan selalu berubah-ubah..”
“Mungkin aku perlu memukulmu agar kau sadar sepenuhnya bahwa
Luhan Hyung paling sayang padamu..”
“Kuharap begitu..”
Mata mereka terpejam, tetapi pikiran mereka masih menunggu
pagi dan keajaiban datang.
The End.


Comments
Post a Comment