FF Jimin : You Are In Danger Tonight

Park Jimiiiiiin.. Kau mati di tanganku malam ini!! Dasar menyebalkaaaaaaaaaan! Beraninya dia! Aish kurang ajar! Keparat kau!”

Sosok lelaki berambut cokelat gelap itu mendadak berhenti di depan pintu begitu mendengar suara teriakan dan bunyi barang-barang jatuh yang di lempar keras sekali. Seketika tubuhnya membeku di tempat sementara matanya melebar ketakutan. Tidak berani masuk ke dalam rumah.

Itu pasti suara Na Young, pikirnya seketika.

Tiba-tiba ponsel di saku coat cokelat pudar miliknya bergetar beberapa kali.

Empat… Lima.. Enam..

Ia memutar bola matanya, lalu menuju kea rah lift lagi, berusaha menjauhi pintu sebisa mungkin. Ia merogoh ponselnya lalu membuka lock screen nya.

From : Jungkookie~
Jimin Hyung, berusahalah! Bujuk Na Young Noona pelan-pelan.. Dia pasti akan mengerti walau.. err.. mungkin agak lama hihi.. Fighting~~!

From : Jin Hyung
Park Jimin, kau sudah berusaha keras. Fiuh, semoga berhasil! Salahmu sendiri tidak memberi tahunya dulu, aku sudah memberi saran kan tadi, jadi.. yah.. Hadapi saja dia

From : Rapmon Hyung
Dorm masih terbuka lebar untukmu, kau tahu? Yah, kalau Na Young sudah mulai keterlaluan, dan kau tidak berani menghadapinya. Tetapi lelaki sejati tidak boleh menyerah, ya kan?

From : Hoseok Hyungie
Jimin-ah, wanita itu harus ditenangkan dulu, belilah es krim cokelat kesukaannya dan bujuk dia, kau pasti bisa. Fighting!

From : Suga Hyung
Kau tahu, Chim-Chim.. pulang ke dorm dan biarkan dia sendiri adalah yang terbaik. Tidur adalah hal yang penting. Utamakan kualitas tidurmu.

JImin hampir-hampir bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah Suga waktu ia mengetik pesan itu kepadanya. Ia memutar bola matanya lagi malas. Memang tipikal Syuga Hyung, kan.

Yang terakhir adalah dari Taehyung, amat konyol sampai-sampai ia heran kenapa namja ini bisa mengiriminya pesan semacam ini.

From Taehyungie PABO :
Ya, Jimin-ah. Ajaklah Na Young ke tempat tidur lalu main-mainlah mala mini, dia pasti akan bungkam dengan sendirinya.

“Bocah ini memang benar-benar.. hilang sudah kewarasannya..”

=-=

Waktu Jimin kembali tiba di depan apartment-nya sangat mengherankannya ia tak mendengar suara apapun dari balik pintu itu lagi. Dengan menggenggam kantung plastic berlogo mini market di lantai dasar apartment-nya, lelaki itu mencoba membuka pintunya dengan memasukkan password tapi seperti yang ia kira, ia tak akan berhasil.

Passwordnya telah diganti oleh gadisnya itu. Ia memang kekanakkan sekali.

‘Sepertinya aku akan tidur berjejalan lagi di dorm..’ pikirnya. Namun beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan terlihatlah sosok yang membuat suara gaduh tadi. Ia membuka pintu lalu secepat kilat masuk kembali ke dalam rumah tanpa memandangnya sedikitpun. Jimin hanya meringis sambil mengekorinya masuk ke dalam rumah.

Ia benar-benar kaget melihat keadaan rumah yang berantakan seakan-akan ada pesawat luar angkasa yang jatuh tepat di ruang tamu.

 “Y..ya.. ya.. Uri Na Youngie, apakah sudah makan? Aku bawa es krim cokelat kesukaanmu, lho..” bujuk Jimin berusaha terdengar seceria mungkin, tapi lawan bicaranya masih saja memunggunginya lalu berjalan lurus masuk ke kamar tidur.

BRAK!

Jimin kira tetangga sebelah pasti akan menyangka kalau ada gempa ringan atau apa, ia heran mengapa engsel pintunya belum juga rusak sampai sekarang. Hawa dingin dan gelap menyelubungi rumahnya, Jimin bergidik membayangkan nasibnya malam ini.
 
Sang main vocal pun berbalik arah menuju ruang tamu lagi bermaksud membereskan kekacauan itu, ia membetulkan laptop yang terjungkir di kolong meja, masih dalam kondisi menyala tentu saja, terlihatlah sebuah fotonya sendiri tengah merobek kaos dalamnya di atas panggung, gambar-gambar ia menari tanpa atasan dan hanya ditutupi sehelai jaket berbulu. Tato di pinggangnya terlihat amat jelas, dan sialnya wanita-nya itu mengerti bahasa mandarin.

“Dia benar-benar sudah tahu..”

Ia membuka kolom komentar dan tidak terkejut sama sekali melihat komentar istrinya, ditulis dengan besar-besar yang isinya benar-benar pernyataan tidak rela dan bencinya. Fansnya yang lain mengganggap ia sebagai fans yang terlalu terobsesi dan menganggap Jimin adalah milik umum. Lelaki itu hanya menghela napas lalu mematikan laptop Na Young, meletakkannya dengan benar di atas meja.

“Kim Na Young.. Buka pintunya..”

Tok Tok Tok.

Tidak ada jawaban. Jimin meraih gagang pintu dan membukanya, ternyata tidak dikunci. Kamarnya amat gelap, sepertinya ia sengaja mematikan lampunya. Lelaki itu bisa melihat bagaimana sinar bulan menyinari wajah cantiknya yang kini sendu, dihiasi oleh jejak-jejak bekas air mata.

Ia tertidur dengan damai, jadi Jimin hanya duduk di sebelahnya, berusaha untuk tak mengusik dan menggangu tidurnya. Pria itu menaiki ranjang sepelan mungkin, menyelimuti  gadis itu sambil ikut rebah disampingnya lalu membawanya dalam pelukannya.

“Park Jimin bodoh, paling bodoh sedunia..” ia merasakan sekepal tangan mungil memukuli dada bidangnya pelan sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu.

“Maafkan aku, memang aku yang salah. Tidak seharusnya aku tidak minta izin dulu padamu. Ini tuntutan agensi, kau tahu? Aku kira memperihatkan perutku sewaktu no more dream sudah cukup, tapi ternyata..”

“Diamlah, kau berisik..”

“Aish, kau ini..”

“Apa-apaan dengn tato-mu itu? Kau ingin menggoda fans mu yang berotak kotor semua itu hah?” Na Young menjauhkan dirinya dari Jimin seketika, kali ini pundaknyalah yang menjadi sasaran. “Merobek seluruh bajumu di depan semua orang, kau ingin aku merobek baju-bajumu yang disini juga? Kalau kau kena flu nanti jangan salahkan aku, itu semua salahmu..”

“Tentu saja tidak. Hei.. Maafkan aku, oke? Jangan bahas itu lagi, please. Kepalaku sakit sekali entah kenapa..” ujar Jimin. Na Young memandanginya lalu menyentuh dahi pria itu sekaligus dahinya sendiri.

“Well, kau demam.. Tidak tinggi, tapi tetap saja demam..” Ekspresi Na Young yang tadinya sebal jadi berubah drastis menjadi amat khawatir. Ia beranjak dari ranjang, lalu mengambil kompres dan juga obat penurun panas. “Apa yang kau lakukan di pesawat tadi dan bukannya tidur seperti yang lain? Hah? Pergunakan waktu tidurmu dengan baik. Contohlah Yoongi Oppa..”

“Contohlah Yoongi Oppa..” Jimin menirukan apa yang Na Young ucapkan dengan nada mengejek. Na Young yang gemas melihatnya hanya menjitaknya sayang.

“Tidak, tidak jangan perlakukan aku seperti anak kecil.. Aku tidak mau dikompres..” Jimin merengek seperti balita, dan Na Young hanya menusuk perut six packs pria itu dengan tangannya yang dingin, membuat Jimin kaget setengah mati.

“Ya! Aku pasien tahu!”

“Kau bukan pasien, tapi ahjussi yang suka memamerkan perut!”

“Mwo? Ahjussi kau bil…” Na Young membungkam bibir Jimin dengan ciuman cepat agar namja itu diam dan bisa segera minum obat.

“Aku mau lagi!” Lagi! Lagi! Di sini!” Jimin menunjuk bibirnya dengan amat bersemangat.

“Aku tidak mau tertular olehmu, dan aku masih sebal dengan ahjussi yang suka telanjang di depan orang banyak!”

“Hei, aku bukan ahjussi. Aku ini suamimu, cepat cium aku!”

“Shireo!”

“Kalau begitu panggil aku Oppa.. Kau memanggil Taehyung Oppa sedangkan dia lebih muda dariku!” protes Jimin.

“Karena menggelikan sekali memanggilmu Oppa, sudah cepat tidur sanaaaaaaaa…”

“Baiklah Kim Na Young, kau mulai berani padaku ya, kita lihat saja nanti!” Jimin menarik tangan Na Young dan membawanya ke tempat tidur lagi. Mengelitikinya sampai Na Young minta ampun.

“Kau sudah tidak marah lagi kan?”

“Aku masih marah..”

“Ayolah jangan marah lagi, kau cantik bila tersenyum..”

“Bungkam mulut besarmu itu, aku tidak butuh!”

“Ya, Nayoungie~~”

 “Geumanhaera..”

Jimin tersenyum melihat air muka istrinya sudah melunak, Na Young masih saja mengalihkan pandangan darinya. Jadi pria itu menangkup pipi istrinya dengan kedua tangannya, menatapnya lurus-lurus, memberinya ciuman cepat sekali lagi.

“Aku tak ingin menularimu, jadi..”
Na Young memberinya ciuman cepat di pipi sambil mendorongnya rebah di ranjang, lalu menyelimutinya. Ia benar-benar sudah tidak marah sekarang, Jimin menarik napas lega.

“Kau tahu kalau aku sepenuhnya adalah milikmu kan? Jadi jangan mengkhawatirkan hal-hal bodoh. Toh kau sudah lihat lebih dulu daripada mereka, well, yang lain-lainnya bahkan juga sudah..” Jimin terkekeh melihat wajah Na Young semerah itu, kedua kalinya semenjak ia berjalan di altar pernikahan sewaktu pernikahan mereka.

“Aku tidak keberatan kalau kau mau melihatnya lagi..”

“PARK JIMIIIIIIIIIIIIIIIIN!” Na Young meremas kerah baju namja itu lalu berbisik di telinganya, “You are in danger tonight.”

The End.

Comments

  1. apa yg terjadi selanjutnya?? apa??apa??
    keren chingu..
    suami gw tu si jimin

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts