FF KaiHyo : Dancing Machine - Chapter 1
Cast : Kai, Hyoyeon, Yuri, Yoona (cameo), dll.
Author : Who Am I?
P.S : FF KaiHyo pertama saya, jangan diketawain ya kalo aneh, ini suka mereka gara-gara nonton Dancing 9, hahaha
“Tarian kami menyatu, jiwa dan pikiran kami, begitu juga air mata yang turun di kedua pipinya, lengan kokohnya melingkari pinggangku, menahan bobot tubuhku sepenuhnya, gerakan kami yang biasanya sangat cepat kini memelan, aku tahu ia tak ingin mempersulitku, kulihat matanya masih basah, tapi kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman, senyum favoritku, yang kubalas dengan senyum lemah penuh rasa bersalah padanya.”
Hyoyeon POV
Kalau kau tanya kapan saat-saat paling menyenangkan dalam hidupku, bagiku, ialah saat ini, lampu sorot yang menyinari tempatku berpijak, yang coba kugenggam dengan tangan kosong, rasanya seperti memegang bintang nan jauh, seperti menggenggam mimpiku, suara sorakan dari penonton dari bawah panggung membakar semangatku, ku lihat wajah tanpa ekspresi ala Kai yang menatapku tajam dari pinggir panggung, tempat yang tersembunyi dari sorotan penonton, seperti akan menelanku hidup-hidup, dia adalah rival sejatiku, sang raja dance dari Timur, begitu julukannya. Aku membalas tatapannya dengan mehrong, masa bodoh dengan bocah itu.
Musik mulai menyala. Aku mulai menari mengikuti irama, tangan dan kakiku bergerak sendiri, rasaya menari semudah bernapas, hal yang paling kusuka adalah saat bebanku rasanya hilang semua, lepas, semakin cepat dan rumit aku semakin suka, aku larut dalam musik, gerakan tubuhku, dan teriakan penonton yang meneriakan namaku keras-keras. Kurasa aku akan terus menari.
Selamanya.
Kai POV
Sang ratu dance dari barat telah datang, seperti biasa, ia menari tanpa beban apa-apa, seakan udara di sekitaku menyusut, atau memang hanya aku saja. Hmm. . Senyum di wajahnya terlihat cantik sekali, gerakan dance nya yang amat rumit bahkan laki-laki saja belum tentu sanggup untuk melakukannya. Dan untungnya aku bisa, dan satu-satunya pesaing kuatnya yang sepadan bertarung dengannya.
Sangat disayangkan tariannya telah berakhir, yang ditutup dengan teriakan fans Hyoyeon yang sungguh dapat menenggelamkan kapal es seandainya kami berada di laut lepas. Kedua pundaknya naik turun, matanya sangat biru, warna biru laut, laut yang sangat ingin kuselami. Mereka menyipit karena ia sedang tersenyum ke arah penonton, ia membungkuk, lalu ia melihatku, berdiri mematung di pinggir panggung. Sesaat ia terdiam, tapi senyum favoritku itu muncul lagi, dan kali ini ditujukan kepadaku.
“Aku tak ingin kalah darimu, tapi menarilah dengan gembira ya, aku tak ingin menang semudah itu, awas kau..” ia menepuk-nepuk pundakku lalu mencubit pipiku seenaknya sambil menebar-nebar senyuman mengejek.
“Jangan menyentuh pipi orang seenak jidatmu, Noona.. Kau pikir aku ini anak kecil atau apa, jangan meremehkanku , ya..”
“Aku tidak meremehkanmu, aku tahu kau bisa, jadi bersemangatlah!” Hyoyeon tergelak, lalu berlalu menuju ke back stage.
Ah, aku membencinya, gadis bernama Kim Hyoyoen itu.
Dan mencintainya, kalau aku boleh.
Hyoyeon POV
Ini dia.
Tarian milik Kai selalu penuh emosi, kedua mata hitamnya seakan berbicara, dan segala macam perasaannya terlihat dengan gamblang di atas panggung. Mungkin karena dia laki-laki, semua gerakan tangan dan kakinya terasa lebih kuat dan lincah. Aku mengagumi anak ini, di usianya yang begini muda ia sudah bisa menari sehebat itu, tak heran ia bisa sampai sejauh ini. Ah, ya, kami ini sedang bertarung sebenarnya, kami adalah rival sejati yang selalu masuk final di kejuaraan dance.
Aku bisa mendengar bagaimana gilanya para pendukung Kai yang didominasi oleh wanita meneriakkan pernyataan cinta yang bertubi-tubi, dengan memanggilnya Oppa, padahal aku yakin, mereka pasti seumuran denganku, aku menggeleng-gelengkan kepala. Memang susah juga mengira kalau sebenarnnya bocah tinggi dan bertampang dewasa itu masih bersekolah di SMA, dan bahkan belum boleh minum soju barang setetespun.
Musik berhenti, tariannya juga, sorakan dari para penonton menutup aksi Kai dengan heboh, ia memamerkan seringai yang menurutku menyeramkan itu--sekaligus tampan—ke arah fans-fansnya yang semakin menggila.
Kai menghampiriku, masih dengan wajah dinginnya, ia berhenti lalu menatapku agak lama.
“Aku menari dengan tampan kan, Noona?” tanyanya kepadaku, dan anehnya kali ini ia tersenyum, entah kenapa wajahnya jadi terlihat beberapa tahun lebih muda jika ia seperti itu.
Aku mengangguk menyetujuinya, lalu menepuk-nepuk kepalanya.
“Ya, tapi nanti saat pengumuman, dan ternyata akulah yang menang, jangan merengek padaku lalu minta di belikan es krim, oke?”
Tiba-tiba ia menangkap tanganku, lalu menjauhinya dari kepalanya, “Aku bukan anak kecil lagi, Noona. Jangan memperlakukanku begitu.” Ujarnya dingin, tangannya masih menggenggam tanganku, tapi matanya tak berani memandangku langsung.
Sampai aku sadar bahwa ia tak juga melepaskan tangannya sampai acara pengumuman pemenangnya selesai.
== == ==
Normal POV
“Hyoyeon selamat, ya. Aku sama sekali tak menyangka kalau hasilnya akan jadi seperti ini..” kata Yuri, salah satu saingannya di kejuaraan dance itu, tapi tersisih saat babak penyisihan 3 besar,
“..dan untukmu juga Kai, selamat atas keberhasilanmu, aku sampai heran sendiri, kenapa bisa nilai kalian bisa seri seperti ini, dan dengan nilai sempurna lagi. Lain kali beri tahu aku tips-tips nya ya..” kata Yuri lagi, kali ini sambil bercanda.
Hyoyeon meringis mendengernya lalu menggumamkan kata-kata yang kedengarannya seperti terima kasih, sementara Kai hanya memasang ekspresi geli sambil memandangi Hyoyeon yang kelihatan agak kesal, setengah mengabaikan Yuri yang jelas-jelas menaruh perhatian kepadanya.
“Aku tak biasa berbagi” kata Kai sambil lalu.
“Dia itu selalu seperti itu ya, dingin dan kurang ajar, dasar bocah, ckckck..”
“Dia memang selalu seperti itu kan..” kata Yuri “..yah kecuali padamu.”
Yuri menatap Hyeoyeon sambil tersenyum pahit lalu pergi meninggalkannya seorang diri.
Kecuali padaku?
= = =
Hyoyeon POV
Aku baru saja keluar dari kelas sampai kutemukan Kai berdiri di depan kelasku, pandangannya tampak tidak sefokus biasanya, kurasa ia setengah melamun. Aku menyuruh Yoona pergi lebih dulu, lalu menghampirinya.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Kai begitu menyadari aku mendekatinya.
Aku memukul kepalanya dengan buku yang sedang kubawa, ia mengaduh kesakitan sambil menatap sedih kepadaku. “Harusnya aku kan yang bertanya begitu padamu?”
“Iya, Noona, aku hanya sedang bosan.” Aku meliriknya, baru menyadari kalau ia masih mengenakan seragam sekolahnya, dan ini baru pertama kalinya aku melihatnya. Ia mengikuti
arah pandanganku, lalu mendadak jadi salah tingkah. Membuat aku ingin tertawa melihatnya.
“Jangan tertawa!” serunya dengan ekspresi malas.
“Lho kenapa? Kau cocok kok memakai seragam itu, cute sekali, aigoo..” Aku terkekeh geli, tapi sewaktu aku melihat wajahnya yang semakin ditekuk, aku menghentikan tawaku.
Aku melihat jam besar di depan aula kampusku, hmm masih terlalu pagi untuk jam pulang sekolah.
“Kau bolos sekolah, ya?”
“Iya..”
“Kenapa malah datang ke kampusku?” tanyaku heran. “Oh, jadi kau mengusirku? Baik, aku akan pergi.” Dengan cepat ia berbalik, tapi aku menangkap lengannya.
“Tunggu dulu dong, Bodoh. Kau pasti punya alasan sendiri, aku tak akan memaksamu kalau kau tidak mau bilang. Ayo ikut aku!”
Kai POV
Gadis itu menarik tanganku, berlaku seenaknya lagi, tanpa sadar aku menurutinya, dan berjalan di belakangnya seperti orang dungu.
Lalu Hyoyeon melepas genggaman tangannya kepadaku, aku mendongak, melihat kearah bayanganku dan dirinya lewat cermin di dinding, ah tidak, tapi hampir seluruh dinding di ruangan ini dipasangi oleh cermin, ada speaker besar di pojok kiri, lengkap dengan DVD, komputer yang terlihat simple sekali, dan bagian yang paling kusuka adalah ruangan ini amat lapang, dan langit-langitnya berbentuk seperti awan sungguhan.
“Bagus kan? Aku tahu kau pasti juga akan menyukainya..” kata Hyoyeon begitu melihat ekspresi kagum dari wajah Kai.
“Ya..” jawab Kai singkat, matanya masih menjelajah ruangan itu.
“Ini salah satu tempat favoritku. Mau battle dance denganku?” ajak Hyoyeon dengan pandangan mengejek.
“Aku malas melawanmu, Noona, kau pasti akan curang, tidak ada juri di sini.” Ujar Kai malas-malasan. Membuat Hyoyeon semakin bersemangat untuk mengganggunya.
“Bilang saja kalau kau takut dikalahkan olehku, ya kan?”
“Tentu saja tidak, siapa bilang aku takut, huh?”
‘Bocah ini memang gampang sekali tersulut emosinya ya ckck..’ kata Hyoyeon dalam hati.
“Baiklah, bagaimana kalau kita taruhan, siapa yang menang akan menuruti semua perintah yang kalah..”
“Oke, jangan merengek padaku ya kalau kau nanti harus mengerjakan semua PR-ku..” ujar Kai sambil memamerkan senyum separonya kepada Hyoyeon.
“Memangnya aku bayi sepertimu?”ejek Hyoyeon.
"Aku bukan!"
"Ya, itu kau, Kai aegi-ya.."
"Aku bukan bayi, Kim Hyoyeon-sshi!"
Kai menarik tangan Hyoyeon tiba-tiba lalu mendorongnya dengan lembut ke dinding kaca di depannya, kedua lengan kai memenjarakan Hyoyeon. Jarak mereka amat dekat sampai-sampai Kai bisa melihat warna laut mata
Hyoyeon dengan jelas, bulu matanya yang panjang, hidungnya, lalu bibirnya..
“Minggir..” Ujar Hyoyeon dingin. Tapi Kai tak kunjung melepaskan gadis itu.
“Minggir kataku, Kim Jongin!”
“Aku hanya ingin kau menyadarinya, bahwa aku bukan anak-anak lagi, seorang bocah yang kau temui 7 tahun lalu di taman belakang kompleks rumah kita itu sudah jadi pria dewasa, Noona..”
Hyoyeon menangkap mata Kai dengan pandangan terkejut.
“Jadi.. kau.. Kim Jongin? Nama mu benar-benar Kim Jongin?”
TBC


Comments
Post a Comment