FF MinSul : I'm Sorry 'Cuz I Like You (Oneshoot)
FF Straight haha
Happy Reading!
Happy Reading!
Author
POV
“Oppa,
kalau kau tidak segera bangun aku akan memotong rambutmu dengan ini!” ancam
Sulli sambil menyodorkan gunting rumput super besar yang ia bawa dari halaman
depan rumah Minho, sudah berkali-kali ia mencoba membangunkan namja itu, tapi
sama sekali tidak berefek pada Minho. Lalu inilah usaha terakhirnya, dan
sepertinya hasil yang diharapkan gagal lagi.
“Hmm..”
erang Minho pelan tapi matanya masih belum terbuka sama sekali, bahkan bergerak
sedikit saja tidak.
“YA!
OPPA! Ireonaaaaa~ (bangun)!” teriak Sulli lagi, kali ini dengan suara putus
asa, ia mengguncang tubuh Minho, lalu pikiran jahil melintas saat ia melihat
gunting rumput tadi, ia mendekatkan gunting itu kearah rambut Minho yang memang
sudah agak panjang sampai ke lehernya itu. Sebenarnya hanya untuk main-main,
tapi sewaktu Sulli mulai menarik rambut Minho, namja bermata besar itu langsung
bangkit dengan kaget lalu meraih gunting rumput itu secepatnya.
“Choi
Sulli.. Beraninya kau mencoba memotong rambutku, huh?!” sebuah suara penuh
ancaman membelah pagi itu, dan tentu saja gadis berambut panjang sepinggang itu
kabur dari siempunya rumah.
“Awas
kau ya!” Minho mendengar suara tawa yang khas dari arah depan rumahnya, Sulli
membuka jendela kamarnya dan menjulurkan lidahnya kemudian berseru dengan
berani “Oppa, aku tunggu di taman, ya! Kau kan sudah janji, namja harus
memegang ucapannya, iya kan?” lalu ia mengedipkan sebelah matanya kepada Minho.
Minho POV
Aku
bermimpi. Aku mendengar suara Sulli, sesuatu seperti memotong rambut? Entahlah,
lalu aku merasa ada gempa, tapi tempat tidurku tidak bergerak sama sekali. Ada
sebuah suara lagi.
Aku
tersadar kalau ini bukan mimpi, aku sudah bangun dan mengintip dari sela-sela
bantal kalau benar ternyata Sulli yang membangunkanku. Sial, aku baru ingat aku
sudah janji akan menemaninya membelikan kado ulangtahun untuk Taemin, namja
yang sudah lama ia sukai. Sekejap aku langsung menyesali ucapanku yang asal
saja mengiyakan setiap ucapannya.
Aku
melanjutkan aktingku, berpura-pura tidur lalu setelah ia menyerah untuk
membangunkanku maka ia pasti akan pergi, lalu aku bisa diam-diam mengikutinya,
menjaganya dari jauh. Mana ada namja yang mau membantu gadis yang ia sukai
memilihkan hadiah untuk namja lain. Mau ditaruh dimana hatiku yang hancur
nanti?
Kemudian
aku merasa kalau ada seseorang yang menarik rambutku. Refleks aku membuak mata
dan melihatnya hampir memotong rambutku dengan gunting rumput, astaga gadis
ini!
Aku
berpura-pura marah dan merebut gunting sialan itu, hancur sudah aktingku ini.
Karena semuanya sudah ketahuan, ia tetap memaksaku menemaninya lalu beraegyo
ria didepanku. Gadis itu, kapan sih
dia dewasa? Selalu saja. Kalau begini terus
kapan aku bisa berhenti mengkhawatirkannya.
***
Lalu
disinilah aku, pergi ke toko-toko disekitar Myeongdong bersama Sulli, mungkin
kalau ada orang yang melihat posisi kami yang seperti ini mungkin mereka akan
mengira kami ini berpacaran, cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku, lalu
meringis. Berpacaran, ya? Sulli saja hanya menganggapku sebagai kakak, lagipula
ia telah menyukai orang lain kan?
Sulli
menarik tanganku lalu menunjukkan kepadaku sebuah syal tebal berwarna kuning.
“Oppa,
eotte (bagaimana)? Apakah warnanya bagus? Taemin Oppa menyukai warna ini. Pasti
dia akan senang, sebentar lagi kan musim dingin. Bagaimana menurutmu?” tanya
Sulli, senyumannya mengembang dengan sangat manis, sejenak membuat aku
kehilangan akal sehat.
“Itu
bagus..” aku mendengar diriku bergumam kepadanya lagi. Aku rasa ini sudah
keseratus kalinya aku memuji pilihannya.
“Oppa-ya!
Kau sudah mengatakan bagus pada semua benda yang kutanyakan kepadamu, kau
kenapa? Apa kau sakit?” Kemudian dia menaruh telapak tangannya di dahiku,
sementara tangan yang lain menyentuh dahinya sendiri. “Tidak panas, kok.”
“Tentu
saja tidak, bodoh, aku hanya bosan..” dan sakit hati, lanjutku dalam hati.
“Benarkah?
Hmm kalau begitu aku ambil syal ini saja, deh.. Tunggu sebentar ya Oppa, aku
akan membayar ini dulu.”
Aku
mengangguk sebagai jawaban. Aku menunggu di luar toko sambil bersandar pada
dinding di depan trotoar jalan, aku suka memperhatikan mereka seperti ini, ada
orang-orang yang menenteng belanjaan, seorang ibu dengan kereta bayi, seorang
wanita yang berjalan sendirian, wanita itu kelihatan aneh dengan dandanannya
yang super tebal, lalu ada sepasang wanita dan pria sedang bergandengan
tangan…..dan hei tunggu! Bukankah itu Lee Taemin? Namja yang Sulli sukai?
Kenapa ia malah bergandengan tangan dengan wanita lain?
Aku
menyipitkan mata, mempertajam penglihatanku untuk memastikannya, tidak salah
lagi. Laki-laki bajingan itu?! Beraninya mempermainkan Sulli-ku.
Aku
berlari menghampirinya, lalu aku menarik kerah yang ia pakai lalu meninjunya
sekuat yang aku bisa. Tepat mengenai rahangnya.
BUK!
“Ya! Apa
yang kau lakukan?!” suara jeritan tinggi wanita yang bersamanya tadi menarik
perhatian orang-orang tapi tidak ada yang mau ikut campur. Laki-laki itu tampak
terkejut setengah mati.
“Kenapa
kau memukulku, hah? Siapa kau ini?!” teriaknya, amarah masih mengaliriku, lalu
aku melihat Sulli menghampiri Taemin.
“Minho
Oppa! Apa yang kau lakukan padanya?” serunya sambil menangis karena kaget.
Gadis ini, masih saja membela laki-laki brengsek itu.
“Sulli-ya,
kau mengenalnya? Siapa dia?”
“Berani-beraninya
kau mempermainkan Sulli?! Kalau kau berani mendekatinya lagi, aku akan
menghukummu!”
“Oppa,
Taemin Oppa tidak salah, hanya aku yang menyukainya, dia sama sekali tidak
mempermainkan aku!” Air mata membasahi kedua pipinya. Aku hanya bisa menatapnya
dengan sedih.
Taemin
bangkit lalu menarik yeoja yang tadi menggandeng tangannya itu.
“Maafkan
aku, Sulli. Kau tahu kan bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan?” ujar Taemin,
sok bijaksana.
“Kajja
Krystal” katanya pada yeoja itu, yeoja yang ia panggil Krystal itu menatap
Sulli dengan pandangan yang amat ku benci, pandangan kasihan sekaligus mengejek.
Kalau dia bukan perempuan, rasanya tangan ku gatal untuk meninjunya juga.
Sulli
bergegas pergi melewatiku tanpa berkata sepatah katapun, ia pergi, menjauhiku.
Aku merasa menjadi namja paling bodoh yang gagal menjaganya.
“Sulli-ya,
Maafkan aku.” Aku menarik tangannya untuk mencoba menghentikan langkahnya.
Namun ia enggan menatapku balik.
“Maaf
untuk apa? Oppa tidak salah. Pergilah Oppa, aku sedang ingin sendiri.” Ia
mencoba menarik tangannya yang sedang ku genggam dengan perlahan.
Ketika
tangannya terlepas, aku menarik tubuhnya lalu memeluknya dengan erat, tapi ia
tidak membalas pelukanku.
“Maaf
untuk tindakanku yang sembarangan memukul orang yang kau suka, maaf untuk semua
kesalahpahaman ini, maaf untuk semua
kebodohanku, maaf telah membuatmu mengaku dihadapannya, maaf juga sudah
membuatmu menangis..” gumamku tepat ditelinganya, suaraku begitu
pelan,sampai-sampai aku tidak yakin apa dia bisa mendengarku atau tidak.
“….dan
maaf untuk kelancangan hatiku yang sudah menyukaimu, maafkan aku.” Tangisan
Sulli semakin keras, lalu akhirnya ia membalas pelukanku.
“Jeongmal
mianhae, Oppa. Aku tidak tahu.”
“Gwaenchana~
Sudah jangan menangis lagi..”
Akhirnya
kuucapkan, kata-kata asing itu, bahwa aku menyukainya.
END


Bagus chingu :) , lanjut dong bikin ff yang lain #hehehe:D
ReplyDeleteAh iya chingu.. makasih ya udah mau baca ff ini ;A; *terharu karena ada yg komentar* xD
DeleteThis comment has been removed by the author.
Deletesimple ceritanya, tapi baguuusss..
ReplyDeleteayo chingu bikin ff lagi..
yg bersambung kaya sinetron ya, biar puas baca ttg minsul, xixixi
hehehe makasih juga chingu.. nanti kalo diterusin terus panjangnya ngelebihin cinta pitri bisa berabe xD segini aja, makasih ya udah mau baca :)
Deleteceritanya bagus thor, keren. tapi masih ngegantung.. sulli juga suka ga sama minho?
ReplyDeletetelimikici udah mau baca chingu-ya.. hanya Sulli dan Tuhan yang tau, hahaha :D
Deleteky sequel donk, ngegantung ini
ReplyDeletethank you udah baca :D maaf ya nggak bisa kasih sequel :)
Delete