FF 2Min Anniversary : I Love You As Always





“Minho Hyung, apa kau pernah merasa takut menghadapi kematian?” tanya Taemin saat ia dan Minho berbaring berdekatan sambil mendengar suara napas satu sama lain. Sosok laki-laki yang lebih tua hanya mengerutkan dahinya heran. 

“Choi Taemin, kenapa kau bertanya hal-hal menakutkan seperti itu di detik-detik menjelang anniversary kita, huh?” Figur yang lebih mungil malah tidak menjawab lalu hanya mempersempit jarak di antara mereka, wangi sabun mandi, wangi baju tidur Minho, dan juga aroma khas namja yang telah dicintainya selama 6 tahun terakhir itu, entah kenapa ia tak pernah bosan menghirupnya dalam waktu yang lama.

Hening yang nyaman, lalu suara Taemin kembali terdengar.

“Tidak apa-apa, maafkan aku, Hyung. Tidak usah dipikirkan ucapanku melantur..” Minho merasakan senyuman Taemin dibalik lekukan lehernya, jadi ia hanya mencium puncak kepala pria bersurai hitam itu lagi, setelah warna blondenya kemarin untuk keperluan album solonya, secara pribadi Minho lebih menyukai warna aslinya, hitam. Ia terlihat lebih cantik dan—manusiawi.

“Hmm.. selama beberapa tahun yang kau lalui bersamaku, apa ada hal yang membuatmu menyesal berkencan denganku, Hyung? Kau tahu… Kau seharusnya bisa meninggalkan aku dalam waktu dekat, semakin semuanya terasa berat untukmu, terutama untukku..” Air mata mulai mengumpul disudut-sudut mata indah milik Taemin, tapi ia tak ingin Minho melihatnya. 

“Hei.. Hei.. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kau tahu itu, kan? Kenapa kau bisa berpikir begitu? Tentu saja aku tidak pernah menyesal..” kata Minho dengan nada menenangkan, ia tahu tidak biasanya Taemin begini, jadi ia harus menunggu agar semua isi hati kekasihnya itu terungkap.

“Hyungie lihat, Baekhyun Hyung memutuskan Chanyeol Hyung dan berkencan dengan Taeyeon Noona, kau tahu.. Kau bisa.. Maksudku… Yah, kalau kau mau.. memiliki keturunan nanti dan sebagainya.. Yah.. Aku tidak bisa memberikanmu anak seperti para wanita.. Hmm.. Minh...” Sebuah ciuman yang intens, dan Minho tidak melepaskannya sampai Taemin hampir kehabisan napas. 

Mereka berdua masih terengah-tengah jadi beberapa kecupan kilat, dan mereka kembali bergelung saling mendengarkan degup jantung masing-masing yang serasa dipukul lebih cepat. Rasanya masih sama setelah sekian lama, tentu saja. Kenapa ia bisa sebodoh ini, sih?

“Dengarkan aku baik-baik, oke? Kau ini anak nakal..” Minho memukul butt Taemin dengan maksud untuk bercanda, dan ia senang mendengar gelak tawa dari namja manis yang bersembunyi di ceruk lehernya itu, sosok lelaki berambut coklat itu memegang kedua pipinya lalu menatap kedua mata itu.

“Jangan pernah bicara tentang aku atau kau yang saling meninggalkan..”

“Tapi…”

Cup. 

Sebuah kecupan capat sudah cukup membuat namja berambut hitam itu bungkam, kembali terperangkap dalam kedua mata hitam Minho.

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu, dan untuk masalah anak kita bisa membesarkan salah satu atau dua, atau tiga anak—semuanya terserah padamu—yang kurang beruntung di Korea, aku yakin mereka sangat membutuhkan Ayah yang baik seperti kau dan aku, atau kita juga bisa membesarkan beberapa ekor anjing yang lucu seperti Jongin dan Kyungsoo..”

Sebuah kecupan lagi, kali ini pada hidung bangir Taemin.

“Dan tentang pertanyaanmu yang pertama, ya, aku selalu takut mati, setiap harinya. Aku takut tidak bisa melihatmu lagi, aku takut kau menjadi sedih, dan aku takut aku tidak bisa memelukmu lagi seperti sekarang.. Tapi berjanjilah padaku kalau aku pergi lebih dulu nanti, kau harus hidup lebih baik, carilah seseorang yang baik dan bisa menjagamu, kau janji?”

Keheningan menyelimuti mereka lagi, dan Minho tidak keberatan menunggu reaksi Taemin atas semua upayanya membujuk lelaki manis itu.

Entah sejak kapan tapi lama-kelamaan kaos yang Minho pakai sekarang basah oleh air mata, suara isakan memecah kesunyian malam itu, dan sosok namja yang lebih tua menjadi panik karena kekasihnya tak mau berhenti menangis.

“Minho Hyung tidak boleh meninggal, aku tidak akan membiarkan Hyungie pergi lebih dulu, aku akan bernegosiasi dengan malaikat maut nanti, membujuknya untuk memberikan separuh sisa umurku untukmu, jadi jangan tinggalkan aku..” Separuh ingin menangis dan separuhnya lagi ingin tertawa mendengar Taemin berbicara begitu, jadi Minho hanya menepuk-nepuknya dan membisikkan kata-kata ‘Minho Hyung tidak akan kemana-mana’, “Hyungie ada di sini bersama Taemin’ ia memainkan rambut halus Taemin yang beraroma pisang dan susu, siapa bilang baby-nya telah tumbuh besar? Ia masih tetap seorang lelaki mungil yang terasa pas di pelukannya.

Bip, bip, bip, bip. 

Suara jam digital di dalam kamar tidur mereka berbunyi 12 kali, itu artinya sekarang adalah genap sudah mereka 6 tahun bersama-sama, Minho kembali membayangkan berbagai macam peristiwa yang telah mereka lalui selama setahun, hingga pertengkaran-pertengkaran kecil mereka yang sering terjadi dalam waktu dekat, tentang kecemburuan Minho yang tak masuk akal kepada sahabat kekasihnya itu, Jongin. Padahal Minho cukup dekat dengan namja berkulit tan itu, Minho mempercayainya seperti adik sendiri, dan ia tahu bahwa Jongin juga sudah punya kekasih. Tapi tetap saja, jiwa kekanakkannya terkadang muncul karena ia jadi jarang bertemu dengan lelaki mungil itu karena kesibukkan masing-masing. Ia jadi gampang marah, dan ingin selalu membanting sesuatu kalau Taemin jarang mengangkat telepon.

Ia mendengus, lalu menguburkan wajahnya lagi ke dalam rambut Taemin yang sekarang sudah tertidur karena kelelahan menangis. Ia ingin selamanya begini, atau paling tidak sampai besok, karena beberapa detik kemudian, sepertinya permohonan itu akan sulit untuk dikabulkan..

BRAK! (suara pintu terbuka) 

DOR! DOR! DOR!

“HAPPY ANNIVERSARY UNTUK COUPLE TEROMANTIS KEDUA DI SHINee, setelah aku dan Onew Hyung tentu saja hehehehe” suara melengking Kibum melesat bagaikan suara kembang api pada tahun baru, dan Minho serta Taemin bangun dari tempat tidur dengan kaget setengah mati, mengira ada perang dunia ketiga atau apa.

Onew memegang kue berbentuk hati dan lilin-lilin yang menyela, senyuman yang menenggelamkan matanya yang berbentuk seperti bulan sabit, Jonghyun yang hanya memakai atasan tanpa lengan dan celana tidur berbentuk polkadot jelas-jelas baru saja dibangunkan juga oleh Key karena ekspresinya yang super mengantuk.

“Kim Kibum.. Aku sangat berterima kasih tapi SEBENARNYA KALIAN INI MENGGANGGU KAMI TAHU! Taruh saja kue nya di kulkas, besok kita makan bersama, oke? Sekarang kembali ke kamar kalian..” Minho mendorong semua anggota member yang tersisa, sementara Taemin tergelak di tempat tidurnya, dengan wajah yang masih setengah sadar.

“Mereka itu, benar-benar..”

“Jangan marah, Minho Hyung.. Mereka bermaksud baik, kok.. Jangan cemberut begitu, oke?” Taemin mengecup bibir cemberut Minho, “Happy Anniversary yang ke-6.. Aku mencintaimu. Selalu.”

Dan senyum kembali mengembang di bibir seorang Choi Minho.

“Happy Anniversary Choi Taemin-ku.. Kau tahu aku mencintaimu lebih dari siapapun, yah.. kecuali Ibu dan Ayahmu..”

“Eh? Hyungku?”

“Mungkin…..sedikit”

“Jongin?”

“Kau mau mati, huh?”

Keesokkan harinya, Taemin hanya bisa berbaring diatas tempat tidur dan makan cake anniversary mereka dengan kesakitan, padahal Minho sudah memesan sebuah restaurant di Jepang untuk merayakannya bersama Taemin.. HAHAHAHAHAHAHA *bagian ini abaikan saja*

TT______TT udah lama nggak bikin fanfict 2Min, dan gue malah bikin tanggal 22 bukan tanggal 27 tepat hahaha kangen berat sama mereka, mungkin karena liat Taemin solo, dan SHINee belom comeback berlima lagi. Oiya, semoga Onew Hyung cepet sembuh juga ya.. Mau liat mereka berlima lagi *terhura karena bisa nyelesaian ff ini* *tebar album danger*

                                                                       END :)

Comments

Popular Posts