FF BTS (Yoonjin) We are Bulletproof by Resonae Terjemahan Indonesia
We Are Bulletproof
By resonae
Relationships :
Kim Seokjin | Jin/Min Yoongi |
Suga / OT7
Characters :
Min Yoongi, SUGA, Kim Seokjin, Jin, Kim Namjoon, RM, Kim Taehyung, V, Jeon Jungkook, Park Jimin, Jung Hoseok, J-Hope
Original Language : English
Terjemahan Indonesia : Cindy
Chapters :
5/5
Published : 2014-08-20
Completed : 2014-08-24
Words :15768
Ringkasan:
Namjoon bukannya pura-pura tidak tahu, bahkan hanya untuk
sedetik saja, tentang apa yang Seokjin lakukan untuk menghidupi mereka semua.
Bahwa Seokjin menyerahkan segalanya agar mereka semua punya kesempatan untuk
memiliki kehidupan yang lebih baik.
Namjoon bukannya pura-pura tidak tahu, bahkan
hanya untuk sedetik saja, tentang apa yang Seokjin lakukan untuk menghidupi
mereka semua.
Dia juga bukannya pura-pura tidak tahu, bahwa
Seokjin dulunya juga punya cita-cita yang tinggi. Bahwa ia merupakan siswa
terbaik di kelasnya di sekolah, bahwa ia memiliki mimpi untuk belajar di
sekolah hukum, menghasilkan banyak uang, dan membantu anak yatim-piatu yang
terlantar seperti mereka.
Dia juga bukannya pura-pura tidak tahu kalau
Seokjin punya kesempatan untuk meninggalkan mereka semua untuk menjalani hidup
yang lebih baik bagi dirinya sendiri, dan meninggalkan mereka semua di selokan.
Dia bukannya pura-pura tidak tahu kalau
Seokjin meraih tangan mereka semua dari panti asuhan yang penuh kekerasan itu,
menggendong Jungkook walaupun waktu itu badan Jungkook sudah besar, saat ia
masih berumur 14 tahun, Yoongi berumur 13 tahun, Namjoon dan Hoseok berumur 12
tahun, Jimin dan Taehyung berumur 11 tahun, dan Jungkook berumur 9 tahun,
menemukan rumah untuk mereka semua tinggal, dan berhenti sekolah agar ia bisa
bekerja.
Dia bukannya pura-pura tidak tahu kalau
kerutan di dahi Yoongi menempel secara permanen pada wajahnya, setiap kali
Seokjin pulang ke rumah sewaan kecil mereka, terlihat tak bernyawa, menggenggam
uang di tangannya, limbung. Terkadang ia memiliki luka-luka di wajahnya,
berbentuk bekas jari tangan manusia yang menghitam dan kejam di leher kurusnya,
dan uang yang dibawanya ke rumah semakin banyak.
Seokjin sekarang berumur 19, Yoongi berumur
18, Namjoon dan Hoseok berumur 17, Jimin dan Taehyung berumur 16, dan Jungkook
berumur 14. Seokjin menjual tubuhnya sebagai seorang pelacur jalanan selama
hampir sepanjang waktu semenjak mereka pergi dari panti asuhan. Awalnya Seokjin
bekerja sebagai pengantar susu, penjual koran, dan pengantar makanan di
restoran cepat saji sekaligus dalam waktu yang bersamaan, berlari kesana kemari
dalam jarak bermil-mil setiap hari karena ia tidak mampu untuk membeli sepeda.
Suatu hari, ia bekerja hingga larut malam, beberapa pembisnis mabuk
menawarkannya 20.000 won untuk memberinya blowjob.
Namjoon tahu kalau Seokjin menghasilkan lebih
banyak sekarang – ia dibayar lebih mahal dari kebanyakan pelacur jalanan yang
lain. Tetapi Seokjin bukan pelacur jalanan biasa. Namjoon mengamati kalau
Seokjin hanya untuk kalangan terbatas. Dia dibayar dan dibawa oleh orang-orang
kaya, pembisnis elit yang cabul. Kadang, Seokjin kepergok di atas ranjang oleh
istri-istri mereka. Kalau ia disakiti oleh para istri, para lelaki akan
membayarnya lebih. Kadang, para istri mencari Seokjin dan memberinya uang untuk
menutup mulutnya. Nama panggilan Seokjin di jalanan adalah Jin, si boneka
porselin.
Hal itu meninggalkan rasa pahit di mulut
Namjoon, melihat Seokjin pulang ke rumah tepat saat semua orang bersiap untuk
pergi, menggenggam uang di tangan, yang dengan hati-hati ia rapikan. Beberapa
dimasukan ke laci yang Seokjin dan Yoongi simpan. Yang secara teknis bebas bagi
siapa saja untuk membuka dan mengambilnya, tapi tidak seorangpun melakukannya.
Beberapa akan Yoongi ambil untuk dideposito di bank. Sisanya dibagikan pada
mereka di pagi hari, untuk uang makan siang, dan biaya sekolah Jimin, Taehyung,
dan Jungkook.
“Hey, kau bangun lebih awal,” kata Seokjin,
tersenyum letih kepadanya. Ada memar di pergelangan tangannya, dan Seokjin
berjalan dengan pincangnya yang permanen kecuali saat ia menarik perhatian
klien. “Bagaimana dengan lagu yang kau dan Hoseok kerjakan?”
Namjoon bukannya pura-pura tidak tahu kalau
Seokjin bisa melakukan hal yang lebih baik, lima tahun setelah menjual dirinya
sendiri, jika dia dan Hoseok menyerah pada musik. Jika mereka tidak keluar dari
sekolah gara-gara hal ini. Dulunya Yoongi juga membuat musik seperti mereka,
hingga suatu malam Seokjin pulang ke rumah, untuk pertama kalinya dengan memar
di sekitar lehernya. Yoongi berhenti membuat musik setelah kejadian itu dan
menemukan pekerjaan sebagai pelayan di suatu tempat, ia bekerja hampir
sepanjang hari, dan menambahkan uang pada simpanan mereka yang sedikit.
Namjoon tahu kalau saja ia dan Hoseok berhenti
untuk menyewa studio, hal itu akan membuat hidup Seokjin dan Yoongi menjadi
lebih mudah. Yoongi tidak perlu bangun pukul 7 pagi setelah baru saja pulang ke
rumah pukul 3 pagi. Seokjin akan punya waktu untuk pergi ke rumah sakit, memeriksa
tubuhnya lebih dari pemeriksaan STD (pemeriksaan untuk penyakit menular
seksual), dan benar-benar memiliki tidur malam yang baik. Tetapi setiap kali ia
berpikir untuk berhenti, Seokjin tersenyum, mengusap rambutnya dan bilang,
“Tidak, kau dan Hoseok harus terus lakukan apa yang kalian inginkan. Sebenarnya
aku tidak ingin Yoongi untuk berhenti juga.”
Namjoon bukan orang yang idiot. Dia tahu kalau
kemungkinannya untuk sukses hampir sama dengan nol. Siapa yang mau mendengarkan
dua orang bocah yang main-main di dalam studio jelek seperti yang mereka sewa?
Seokjin bukanlah orang bodoh juga, dan dia tidak berkhayal tentang bagaimana
dunia berjalan, malahan ia yang paling tahu, tetapi dia masih saja memberikan
semangat pada mereka berdua. “Aku akan mendukungmu selama aku masih bisa,” dia
memberitahu mereka.
Mereka bertujuh tahu kalau Seokjin lebih
berkemungkinan untuk meninggal sebelum usianya sudah cukup tua dan dia sudah
tidak menarik lagi. Namjoon agak tidak bisa membayangkan Seokjin sebagai ‘orang
yang tidak menarik’, ia hanya tidak bisa menggambarkannya di otaknya. Tapi,
kemungkinan kalau Seokjin tidak pulang ke rumah suatu hari nanti sangatlah
tinggi. Tidak ada yang tahu, Namjoon merasa ingin muntah saat memikirkannya.
Mereka tidak akan pernah tahu kalau suatu saat seseorang meninggalkan Seokjin
mati di lorong yang kotor, dan Namjoon tahu hal itulah yang paling ditakuti
Yoongi. Itu hal yang ditakutkan mereka semua.
“Tunggu, ambil uang untuk beli makanan,” ujar
Seokjin saat Namjoon memasukan kakinya ke dalam sneakers lamanya. “Kau akan
pergi bersama Hoseok kan?” Dia memberi Namjoon tiga lembar uang 10.000 won.
“Jangan makan makanan cepat saji. Makanlah yang benar. Kau dan Hoseok semakin
kurus.” Namjoon ingin berteriak pada Seokjin kalau dia adalah yang paling kurus
dari mereka semua dengan tulang rusuk yang timbul di bawah kaos longgar yang ia
kenakan.
“Hyung, aku tidak butuh sampai 30.000 won.”
Dia bergumam. “Bahkan semangkuk jjajangmyun saja hanya 5.000 won. Kalau kita
membeli tteobeokki dari sebrang jalan, ibu penjualnya hanya menghargai kita
2000 dan semua itu cukup untuk sepanjang hari.”
“Jangan makan
jjajangmyun atau tteobeokki. Makan sesuatu yang lebih baik.”
“Tetap saja
30.000 won itu terlalu banyak.” Namjoon menggerutu. Dia menyodorkan dua lembar
kembali ke arah Seokjin. “10.000 won saja sudah cukup”
"Nam-"
Namjoon membanting pintu tepat ke wajah
Seokjin sebelum ia selesai bicara. Seketika dia merasa amat bersalah setelahnya
karena dia sepenuhnya sadar kalau Seokjin menyerahkan segalanya agar mereka
semua tidak perlu senasib seperti dirinya. Hal paling sederhana yang bisa
dilakukannya adalah menjadi anak yang baik, tapi setiap kali ia melihat Seokjin
yang selalu terlihat seperti akan patah menjadi dua jika ada angin yang
meniupnya terlalu kencang, dia jadi mengingat segala kegagalan yang ia alami
sejauh ini, dan itu membuat ia kesal.
Dia sebenarnya mempertimbangkan untuk kembali
dan meminta maaf, tapi malahan ia cuma berjongkok di depan pintu, bergelimang
dengan rasa bencinya pada diri sendiri sampai pintu terbuka lagi, dan Hoseok
datang dengan tersandung. Dia menyadari Namjoon melakukan hal bodoh dan
memasukan kepalanya lagi ke dalam rumah. “Jangan keluar, hyung. Istirahatlah.
Kau kelihatan jelek banget.” Terdengar suara tawa pelan dari dalam dan Hoseok
memasukan lengannya ke dalam, tidak diragukan lagi untuk mengelus pipi Seokjin.
“Aku pastikan kalau Namjoon akan makan.”
Dia menutup pintunya dan berjongkok di samping
Namjoon. Namjoon menggerutu, “Pukul aku. Itu akan membuatku merasa lebih baik.”
“Dasar
bodoh kau,” kata Hoseok tapi tidak memukulnya. “Kenapa juga kau ingin pergi ke
studio jam enam pagi begini? Bahkan Yoongi hyung saja belum bangun. Aku
terbangun karena kau berbicara keras sekali pada Seokjin hyung.
“Tidak tahu, Aku—Aku tidak bisa tidur. Aku
cuma menunggunya pulang dan saat aku melihat memar di pergelangan tangannya aku
langsung merasa marah.”
Hoseok tidak bilang apa-apa dan hanya terlihat
marah saat memar-memar itu dibahas. “Ayo, kita pergi. Dia mendapat memar-memar
itu untuk membayar studio kita. Harus digunakan seharian penuh.
--
Hoseok dan Namjoon punya flip phone. Benda itu sudah tua jadi tidak akan rusak bahkan tidak
peduli berapa kalipun Hoseok dan Namjoon menjatuhkannya. Sebetulnya mereka
bilang kalau mereka tidak membutuhkan ponsel sama sekali tetapi Seokjin
bersikeras. “Aku tidak bisa lagi mengawasi kalian semua, tapi Yoongi bisa,” dia
bilang seraya memberi mereka flip phone.
“Aku akan membelikan yang lebih mahal nanti, saat kita bisa menyimpan lebih
banyak uang.”
Yoongi punya jenis yang sama, kecuali ia tidak
menjatuhkan miliknya. Mereka semua tahu seberapa keras Seokjin bekerja dan
kelaparan untuk membeli ponsel agar mereka bisa saling berkomunikasi satu sama
lain.
Taehyung, Jimin dan Jungkook semuanya memiliki
smartphone. Seokjin memberikan pada
mereka saat Natal dengan wajah yang berseri-seri, terlihat seperti dialah yang
mendapat hadiah. “Kau tahu, karena kalian bertiga pergi ke sekolah, dan
orang-orang dibully karena hal itu.”
Taehyung mulai menangis saat itu juga, sementara Jimin hanya terbelalak, dan
Jungkook kelihatan seperti melihat benda paling rapuh sedunia.
Namjoon tahu mereka bertiga jarang menyentuh
ponsel mereka kecuali disaat-saat penting, karena mereka takut akan merusaknya
atau tidak sengaja mengunduh sesuatu yang menghabiskan banyak biaya. Jadi, aneh
rasanya saat ponsel Hoseok bergetar cukup kuat hingga jatuh ke lantai. “Sial,”
kata Hoseok, membungkuk untuk meraih ponselnya. Dia membuka flipnya dan
mengerutkan dahi. “Taehyung bilang Seokjin hyung tidak membalas pesan kalau ia
sudah makan atau belum, dia tidak mengangkat telepon.”
Pesan yang Namjoon baca juga berisi hal yang
sama. Yoongi punya Taehyung yang memeriksa keadaan Seokjin sepanjang waktu,
biasanya karena mereka takut Seokjin sakit saat ia sendirian di rumah pada
siang hari dan mereka tidak ada yang tahu sampai keadaan sudah terlambat.
Mereka membuat kebiasaan jadi Seokjin akan mengirim pesan pada Taehyung sekitar
pukul 2-3 siang, memberitahunya kalau ia sudah bangun dan sudah makan. Namjoon
curiga Seokjin tidak benar-benar sudah makan (mereka semua agak mencurigai hal
yang sama), tapi hal yang penting adalah ia sadar dan baik-baik saja.
Tidak ada di antara mereka yang ragu untuk
bangun, mengunci stan mereka dan bergegas menuju ke rumah.
--
Hal yang sebenarnya terjadi adalah Seokjin
hanya ketiduran, tak sadarkan diri. “Maaf,” katanya dengan terhuyung-huyung,
dan saat ia cuma mengenakan kaos longgar yang melorot ke salah satu bahunya,
Namjoon bisa melihat semua luka bekas kecupan dan hisapan yang mengotori
bahunya. Dia bertanya-tanya apa yang Seokjin hadapi tadi malam yang membuatnya
tertidur senyenyak itu hingga tidak mendengar banyak pesan dan telepon dari
Taehyung. Ia juga bertanya-tanya apa saja luka lainnya yang Seokjin sembunyikan
dibalik bajunya. Bertanya-tanya, untuk momen yang menyakitkan, berapa banyak ia
dibayar untuk melakukan hal itu. “Taehyung tidak perlu menelepon kalian semua.”
“Tentu saja, ia harus melakukannya.” Ujar
Hoseok, mengelus dadanya sendiri dengan lega. “Ayo kita makan sesuatu, lagipula
kita sudah berada di sini.”
Seokjin bangun dengan tidak stabil. “Aku akan
memasak sesuatu.”
“Hyung, bukan begitu maksudku-“
“Aku tahu.” Seokjin tersenyum, rasa kantuknya
belom juga hilang dari kedua matanya, dan itu membuatnya terlihat berantakan
sekaligus menawan. “Tapi sudah lama sekali sejak aku memasakan makan siang
untuk kalian berdua.”
Seokjin bisa membuat hal yang luar biasa dari
apapun, jadi bukan berarti Namjoon tidak mengharapkan masakan rumahan setelah
biasanya selalu makan di luar. Tetapi Seokjin kelihatan seperti dia akan
pingsan kalau Namjoon menyentuhnya terlalu keras. Hoseok nampaknya juga
berpikiran hal yang sama karena ia bilang, “Hyung, kau kan sudah masak hari
Minggu lalu. Kau yakin tidak mau makan sesuatu di luar? Kau tidak pernah kan?”
“Aku ingin masak untuk kalian. Aku tidak
pernah memasak untuk makan siang!” Seokjin bersikeras, dan mereka pasti kalah
dari Seokjin. Tidak akan ada yang bisa menang dari Seokjin. Jadi Hoseok dan
Namjoon menyerah untuk pergi dengan canggung, menunggu dekat dengannya
kalau-kalau Seokjin benar-benar pingsan. Tidak lama setelah Seokjin menyiapkan
semuanya di dapur mereka yang sangat sederhana, dengan bahan makanan seadanya
yang mereka punya di kulkas. Lalu terciumlah wangi yang amat menggugah selera.
Hoseok yang mengambil lebih dulu. “Aku tidak
tahu bagaimana kau melakukannya, hyung.” Dia mendesah dengan mulut penuhnya.
“Rasanya seperti surga sialan.”
“Hey, bahasamu.” Seokjin mengomel tapi ia
tersenyum lebar. “Sepertinya kalian berdua dan Yoongi terlahir dengan mulut
yang kasar. Kau sudah mengumpat sejak yang bisa ku ingat. Kau juga tadinya
sering mendapat masalah karena hal ini juga.
Namjoon memutar bola mataya. “Si brengsek itu
tetap akan menemukan cara lain untuk memukul kita walaupun kita tidak menyumpah.”
Dia tidak tega untuk bilang kalau Seokjin dulu biasa dipukul sepanjang waktu
walaupun ia seorang siswa tauladan.
Seokjin berdeham setuju. Dia tidak makan
banyak, biasanya karena ia menjaga badannya agar tetap kurus. “Makan yang
banyak, hyung,” Namjoon menegurnya dengan pelan, dan Seokjin makan hampir
separo mangkuk sebelum memutuskan kalau ia sudah selesai. Namjoon melihat
mangkuk yang separuh terisi dengan pandangan benci.
“Aku rasa kau terlihat lebih baik dengan
menambah berat badan,” Hoseok berkata, sedikit memarahi. “Kau sangat kurus.”
Seokjin tertawa. “Di jalanan ada banyak
laki-laki baru yang lebih cantik sekarang. Bahuku sudah terlalu bidang. Paling
tidak aku harus tetap kurus.”
Namjoon tidak tahu bagaimana bisa ada orang
yang lebih indah dari Seokjin. Dia sudah melihat Seokjin dengan dandanan
rapinya sebelum pergi keluar. Seokjin tidak pernah mengenakan pakaian yang
terlalu menyolok ataupun yang terlalu terbuka. Dia memakai eye liner dengan
tipis, warna hitam pada bagian atas dan warna putih pada bagian bawahnya untuk
membuat matanya terlihat menonjol, seoles lip gloss pink untuk membuat bibirnya
yang memang sudah tebal menjadi semakin menarik, dan maskara bening. Dia tidak
memakai pakaian yang ketat, atau apapun yang terlalu menyolok, murahan, atau
terbuka. Dia selalu memakai skinny jeans berwarna gelap dan kaos biasa yang ia
padukan dengan aksesoris lain yang membuatnya terlihat seperti memakai pakaian
seharga jutaan dolar. Terkadang ia memakai baju rajutan yang kebesaran,
membuatnya terlihat lebih muda sepuluh tahun, dan sewaktu udara mulai dingin,
ia memakai jaket, hanya itu.
Dan itu, dalam pandangan Namjoon, membuatnya
dua kali lebih cantik dari orang lain yang berdandan untuk menjual dirinya di
luar sana.
--
Menurut Namjoon kalau dia bisa membuat para
label rekaman mendengar beberapa lagu buatan mereka, orang-orang itu akan
menyukainya. Lagu-lagu yang dia, Hoseok (dan Yoongi, sebelum ia berhenti) buat
lebih bagus daripada beberapa yang telah rilis di luaran sana, dan ia berusaha
sebisa mungkin untuk berpandangan objektif. Tetapi, kalau kau hanyalah dua
orang remaja putus sekolah yang membuat lagu di studio yang sebesar luang
tikus, dan hal yang bisa kau kirimkan adalah mixtape tanpa rekomendasi atau
agen dari manapun, sebagian besar dari kerja keras mu akan dipisahkan dan
dibuang bahkan sebelum lagu-lagu itu bisa didengarkan.
Pada awalnya, Namjoon dan Hoseok dan Yoongi
sangat bersemangat dalam bermusik. Karena mereka suka membuat ketukan dan
irama. Tapi seiring waktu berlalu dan Seokjin terlihat semakin kurus dan Yoongi
berhenti untuk bekerja dengan gajinya yang kecil, Namjoon menyadari kalau uang
tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi tanpa uang, kau tidak bisa bahagia. Atau
hidup. Namjoon ingin mencekik para idol yang menyanyi tentang tidak membutuhkan
uang, lalu menunjuk Seokjin pada mereka, yang menyerahkan segalanya karena
mereka tidak memiliki uang.
Jadi sekarang, tujuan utama Namjoon dan Hoseok
adalah mendapatkan perhatian. Mereka menyesuaikan musik mereka, ke genre yang
lebih rap-pop daripada hardcore hiphop yang selama ini mereka buat. Mereka
berhenti untuk pilih-pilih label. Berhenti mencemooh label musik pop, kirimkan
saja semuanya ke semua tempat.
-
Kalau dia dan Hoseok bisa membuat lagu mereka
diterima dan mulai mendapatkan royalti, setidaknya Seokjin bisa berhenti
menjual seks. Hanya itu yang Namjoon mau: membuat Seokjin mendapatkan
kehidupannya kembali.
--
Minggu adalah hari saat semua orang ada di
rumah, saat restoran tempat Yoongi bekerja memberinya hari libur, saat
Taehyung, Jimin dan Jungkook libur sekolah dan bebas dari belajar, saat Hoseok
dan Namjoon istirahat dari kegiatan membuat lagu mereka, Seokjin tidak
benar-benar libur, tapi dia setidaknya tidak pergi hingga hampir tengah malam
tiba, jadi semuanya ada di rumah.
Bagi Jungkook, Seokjin itu melebihi kakak
laki-laki yang tertera di atas kertas. Dia adalah orang tua. Namjoon menyadari
kalau Jungkook menyebut Seokjin sebagai ibu pada teman-temannya di sekolah,
bercerita tentang bagaimana ibunya menyiapkan makan siang untuknya. Saat ia
membutuhkan sesuatu untuk ditandatangani, ia memberikannya pada Seokjin, dan
hubungan yang tertera selalu ‘ibu’. Dia tahu kalau Seokjin juga mengetahuinya.
Dari mereka semua, Jungkook mungkin paling terikat dengan Seokjin. Mereka semua
menyayangi Seokjin, mereka semua menyayangi satu sama lain, dan Namjoon tidak
bisa membayangkan dunia tanpa salah seorang dari mereka—tetapi bila Seokjin
lenyap. Jungkook mungkin adalah orang yang paling terpukul. Seokjin tidak mungkin
akan menghilang, Namjoon buru-buru mengoreksi pikirannya.
Dan pada hari Minggu, Jungkook menyita semua
perhatian Seokjin. Dia melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang Seokjin,
berbaring di lantai sementara kepalanya berada di paha Seokjin saat mereka
semua menonton film di televisi bekas berukuran kecil yang mereka punya. “Kau
tambah kurus,” Jungkook mengerutkan dahi, menusuk bagian samping Seokjin,
“Hentikan, Jungkook, gelitikan itu.” Kata
Seokjin sambil menahan tawa. “Aku tidak tambah kurus. Aku makan lebih banyak
daripada biasanya.” Jungkook membuat suara tidak percaya tapi menarik Seokjin
lebih dekat, mengusap-usap hidungnya pada tubuh Seokjin. Seokjin tertawa kecil
dengan penuh kasih sayang. “Kau tidak pernah tumbuh dewasa, ya? Kau ini masih
anak kecil?”
“Hanya padamu,” Jimin mendengus, meneguk
sodanya. Mereka semua tahu—bahkan Seokjin tahu—kalau mereka semua minum
(kecuali Seokjin, yang bersumpah alkohol membuatnya ingin muntah), tapi Seokjin
tidak mengizinkan anak dibawah umur untuk minum di depannya. Jadi mereka hanya
minum soda saat Seokjin ada, dan Seokjin pura-pura tidak menyadari adanya bir
dan soju di kulkas. “Kau harus melihatnya di sekolah. Dia itu monster.”
Jungkook mendelik tajam kearah Jimin, tapi itu sudah menjadi
rahasia umum. Seokjin membaca semua rapor mereka bertiga dan menaruh perhatian
lebih pada teguran-teguran buruk. Jungkook biasanya yang paling buruk, dengan
komentar yang pedas tentang kepribadiannya yang sombong dan tingkah lakunya
yang bermasalah. Para guru tidak bisa mengeluarkan Jungkook karena ia masih
mempertahankan nilai-nilainya untuk tetap bagus. Itu hal yang sulit untuk tidak
dilakukan, sulit karena mereka semua tahu bahwa Seokjin menyerah untuk memberi
mereka pendidikan yang layak.
Dari mereka semua, Taehyung adalah yang
terbaik di studinya. Jujur, Namjoon agak terkejut karena biasanya, Taehyunglah
yang paling bodoh. Tapi setiap kali hasil rapornya keluar, Taehyung datang
dengan berseri-seri, sementara Jungkook pulang dengan menggerutu dan
menghantamkan sepatunya. Taehyung tidak dapat menunjukan hasil rapornya pada
Seokjin dengan cepat. Itu semua dipenuhi oleh laporan yang luar biasa tentang
prestasi, kepribadian, dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai ketua kelas,
tentang bagaimana ia sangat popular di antara murid-murid, membantu guru, dan
bagaimana guru-guru menaruh harapan mereka padanya.
(Jungkook, di sisi lain, mengakui kekalahannya
dengan iri hati pada nilai-nilainya yang bagus tetapi diikuti dengan teguran
pedas pada tingkah lakunya, yang biasanya diawali dengan ‘andai saja ia bisa sedikit
lebih mirip dengan kakaknya’.)
--
Bukan pertama kalinya Seokjin dipanggil ke
sekolah karena Jungkook. Seokjin berpakaian dengan rapi dalam balutan celana bahan
panjang dan kemeja berkancing, dan dia duduk tegak di sana dengan ekspresi yang
tegar seperti orang yang sudah berkali-kali berada dalam situasi yang sama. Dia
berusaha untuk membuat Namjoon melakukan hal yang sama, namun Namjoon hanya
duduk merendah di kursi, merosot dengan pandangan yang muram. “Namjoon,
tolonglah,” Seokjin mendesis dalam bisikan. “Duduklah dengan tegak.”
Namjoon menurut, dalam satu detik, kemudian ia
merosot lagi. Seokjin menghela napas dengan jengkel. Biasanya Yoongi yang
melakukan ini—mereka adalah sosok ‘ibu’ dan ‘ayah’ dalam keluarga, tapi Yoongi
sudah menggunakan semua hari liburnya untuk menyelesaikan masalah Jungkook yang
sebelumnya, dan Hoseok dengan sangat kebetulan menderita sakit perut. (Namjoon
bersumpah ia akan membunuh si brengsek itu).
“Ah, sial.” Kata Jungkook, saat ia diantar ke
kantor kepala sekolah dan melihat Seokjin dan Namjoon. “Kenapa kau yang datang
ke sini dan dimana Yoongi-hyung?”
“Oh, Tuhan, kalian bertiga mempengaruhi
Jungkook.” Seokjin mendesah.”Jungkook, jangan menyumpah. Apa yang terjadi?” Dia
berdiri dan menangkup wajah Jungkook, memiringkannya ke sana kemari untuk
memeriksa memar dan luka yang sudah dibalut dan diolesi salep.
“Jungkook,” ujar Kepala Sekolah, berdeham,
“menyerang murid laki-laki lain. Untuk yang kelima kalinya dalam semester ini.”
Seokjin menggigit bibirnya. “Jungkook, kenapa?
Setelah yang terakhir kali kau berjanji padaku kau tak akan-“
“Karena,” potong Jungkook, “dia menyebutmu
pelacur murahan. Seperti bajingan lain yang ku pukul sebelumnya.”
Hanya ada keheningan di ruangan itu, dan
tangan Namjoon mengepalkan tinjunya. “Jungkook,” kata Seokjin, suaranya
terdengar lembut. “Jangan menyumpah. Di sini tidak ada orang yang bisa kau ajak
bicara seperti itu. Namjoon, aku sudah bilang padamu, Yoongi dan Hoseok untuk
tidak menyumpah di depan anak-anak seperti itu.” Namjoon tidak punya jawaban
untuk itu, jadi ia hanya mendelik ke lantai.
Kepala Sekolah berkata pada Seokjin, “aku
harap aku tidak bertemu dengan mu lagi secepat ini, Mr. Kim.” Perkataanya
menunjukan sudah berapa kali Jungkook terlibat dalam masalah.
“Aku juga,” Seokjin menghela napas, menatap
tajam ke arah Jungkook. Jungkook merosot di kursinya, membuat lubang dengan
pandangannya ke lantai.
Kelihatannya mereka berdua lupa apa yang
dikatakan Jungkook. Namjoon gemetaran, agak marah ketika terdengar ketukan dan
ekspresi Seokjin langsung kosong. Namjoon mendongak, melihat seorang wanita
bertampang jahat berjalan dengan seorang remaja laki-laki dengan memar biru dan
hitam di wajahnya. Untuk beberapa saat, kaget meliputi wajah Seokjin, lalu ia
menghela napas.
Itu adalah anak nakal yang menyebut Seokjin
sebagai pelacur murahan, Namjoon berpikir, sulit untuk menahan dirinya untuk
tidak memukul wajah anak itu.
Kepala Sekolah memperkenalkan kedua keluarga
dan wanita itu mulai mencaci maki ke wajah Seokjin. Namjoon hampir menggeram
marah tetapi Seokjin terlihat tenang dan hati-hati. Sebelum semua orang dapat
berkata apa-apa. Jungkook memotongnya, “Wanita Jalang, diam kau. Akulah yang
memukul anakmu, bukan hyung.”
“Jungkook, kalau aku mendengar sumpah serapah
lain atau hal lain yang kurang ajar dari mulut mu lagi, kau akan menyesalinya.”
Seokjin mendesis. Jungkook memberengut ke arah lantai tetapi menutup mulutnya.
Sang ibu berdiri dan menunjuk Jungkook. “Dia
harus dikeluarkan.” Menurut Namjoon itu sedikit kasar, mengingat anaknya
menyebut Seokjin sebagai pelacur. Dan bukan hal yang aneh kalau remaja
laki-laki bertengkar. Seokjin, di sisi lain, terlihat seperti ia sudah
memperkirakan ledakan amarah itu. “Bukan pengaruh yang baik bagi murid lain
jika seseorang dari keluarga yang berantakan seperti mereka datang ke sekolah
seperti ini. Dia memanggil kakak laki-lakinya dengan sebutan ibu. Dan kakaknya,”
ia mendesis ke arah Seokjin, “sudah tentu bukan contoh yang paling baik.”
Namjoon memutuskan untuk memukul wajah wanita
jalang itu. Tetapi Seokjin menginjak kakinya dengan keras. Kepala Sekolah
untungnya berdeham untuk bilang. “Taehyung berasal dari latar belakang keluarga
yang sama. Jimin anak yang baik juga. Aku tidak berpikir masalahnya terletak
pada saudara angkatnya-“
“Dia itu PELACUR.”
Ada keheningan yang dalam di ruangan itu.
Jungkook mendesis tetapi Seokjin menahannya sebelum ia melakukan sesuatu. “Saya
minta maaf untuk hal yang terjadi.” Kata Seokjin. “Tapi seperti yang Anda tahu,
kami berasal dari keluarga yang sulit. Berat untuk remaja laki-laki yang sedang
puber seperti Jungkook.” Dia berdiri, dan sebelum Namjoon atau Jungkook bisa
mencegahnya, ia menjatuhkan diri dan berlutut.
Namjoon menatapnya, tercengang sampai ia tak
bisa berkata apa-apa, dagu Jungkook jatuh terbuka. Bahkan si ibu terlihat
kaget. “Hyung,” Jungkook mendesis, menggapai untuk meraih Seokjin. Seokjin
tidak bangun.
“Saya memohon maaf. Saya tahu anak Anda
kesakitan. Saya tahu Jungkook memang pembuat onar, tapi dia tidak bisa
dikeluarkan dari sekolah. Saya akan melakukan apapun untuk mendapat pengampunan
Anda.
Jungkook
terlihat gemetar karena amarah. Dia meraih Seokjin, menariknya untuk berdiri,
dan ia sendiri yang jatuh berlutut. Dagu Namjoon terbuka hingga menabrak lantai
melihat apa yang dilakukan Jungkook. Jungkook terlihat ragu sebentar tapi
kemudian ia membungkuk, menempelkan dahinya ke lantai. “Maaf.” Ujarnya,
suaranya bergetar. “Ini tidak akan pernah terjadi lagi.” Suaranya terendam di
atas lantai.
to be continued...


Wah aku suka apa ad kelanjutannya?
ReplyDelete