Anthony Horowitz - The Switch Terjemahan Indonesia Bab 1

Preview
“Tad membuka mulutnya untuk berteriak. Anak laki-laki itu melakukan hal yang sama. Dan saat itulah ia sadar… Kalau ia tidak melihat ke jendela. Tapi dia melihat ke cermin…”
Tad Spencer, satu-satunya anak lelaki dari salah satu pengusaha kaya yang luar biasa, memiliki segalanya yang seorang anak laki-laki bisa harapkan. Tetapi suatu malam ia membuat satu kesalahan terbesar karena ia ingin menjadi orang lain. Sebuah pertukaran mengambil alih tempat dan saat ia terbangun, dia menjadi Bob Snarby, terperangkap dalam sebuah dunia pasar malam yang kotor dan kejam, ditinggali oleh para kriminal licik, peramal misterius, dan Finn yang amat berbahaya. Yang terburuk adalah ia harus mengikuti semua itu, walaupun begitu Tad harus menjadi subjek pada eksperimen dahsyat, kebenaran yang sebelumnya belum terungkap yang membuat nyawanya dalam bahaya…
Chapter I : Beautiful World / Dunia yang Indah
Mobil Rolls Royce berwarna putih itu berjalan dengan cepat membelah jalan pedesaan tanpa menimbulkan suara. Hari itu sudah memasuki pertengahan musim panas dan rerumputan sudah meninggi, diselingi oleh bunga madat dan aster. Cahaya matahari berdansa di udara, akan tetapi satu-satunya penumpang di kursi belakang mobil tidak melihat pemandangan itu sama sekali. Kepalanya tersembunyi oleh sebuah buku berjudul 100 Persamaan-Persamaan Favoritku. Seraya membalikan satu halaman, ia memasukan cokelat ceri marzipan lain ke dalam mulutnya, untuk yang ke empat belas kalinya sejak mereka sampai di Ipswich. Jendela otomatisnya diturunkan terbuka dan bungkus cokelat lainnya terbawa oleh angin, berputar sebentar di udara, kemudian jatuh. Tepat saat bungkus itu menyentuh tanah, mobil Rolls-nya telah hilang dari pandangan. Dan Thomas Arnold David Spencer sebentar lagi akan sampai di rumah.
Thomas Arnold David Spencer—biasa dipanggil Tad—berumur tiga belas tahun, memakai celana panjang abu-abu yang sudah terlalu ketat untuknya, sebuah dasi garis-garis dan jaket biru.
Rambutnya pendek dan berwarna hitam, disisir dengan agak terlalu rapi, dan matanya berwarna cokelat gelap. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dari Beton College, hari pertama dari liburan musim panasnya. Itu sudah menjadi kebiasaan Tad bahwa dia harus mulai mengerjakan PR-nya lebih awal. Tad menyukai PR. Dia amat menyesal karena tidak diberi cukup banyak PR.
Mobil Rolls Royce-nya berhenti di depan sebuang pasang gerbang besi. Terdengar sebuah bunyi klik, dan gerbangnya mulai terbuka dengan otomatis. Pada waktu yang bersamaan, sebuah perangkat kamera video pada sebuah dinding batu bata yang tinggi berputar, mengamati kedatangan baru dengan mata yang hampa dan tak bersahabat. Melewati gerbang, perjalanan panjang dilalui hampir setengah mil melalui lapangan rumput datar yang telah digulung dengan rata sempurna. Dua ekor angsa berenang mengelilingi kolam yang berkilau, memperhatikan mobil Rolls yang berjalan maju terus. Melewati kebun bunga mawar, kebun sayuran, lapangan kroket, lapangan tenis, dan kolam renang yang hangat. Akhirnya, mobilnya berhenti di depan pilar yang sangat tinggi yang merupakan aula Snatchmore, kediaman keluarga Spencer. Tad sudah sampai di rumah.
Sang supir berbadan lebar, seorang pria buruk rupa yang memiliki mata berkantung, pipi berkerut serta hidung yang kecil dan pendek, keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Tad. “Senang sudah berada di rumah Tuan Spencer?”
“Ya, terima kasih, Spurling.” Suara Tad datar, hampir tanpa emosi. “Sedikit.”
“Aku akan membawa barang-barang anda ke kamar anda, Tuan Spencer.”
“Terima kasih, Spurling. Tinggalkan saja di atas ranjang.”
Tad pergi ke atas menuju kolam renang, dimana seorang wanita bertampang bosan sedang berbaring di kursi berjemur, menatap dirinya sendiri dengan intens pada sebuah cermin kecil. Dia adalah ibunya, Nyonya Geranium Spencer.
“Selamat siang, Bu.” Kata Tad. Dia tahu kalau ia tidak boleh menciumnya. Itu akan merusak riasan wajahnya.
“Oh halo, sayang.” Ibunya menghela napas. “Apa ini sudah waktunya liburan?”
“Ya.”
“Oh, Ibu kira minggu depan. Bagaimana menurutmu tentang hidung Ibu?”
“Bagus sekali, Bu. Mereka memindahkannya sedikit, ya?”
“Ya. Hanya sedikit ke kiri.”
Nyonya Spencer telah mengunjungi tidak kurang dari enam ahli beda plastik selama musim panas itu, dan masing-masing dari mereka semua sudah mengoperasi hidungnya, mencoba memberikannya penampilan yang benar-benar ia inginkan. Sekarang ia sudah yakin kalau yang terakhir ini sudah benar. Satu-satunya masalah adalah ia tidak diperbolehkan untuk bersin sampai Natal. “Bagaimana sekolahmu, sayang?” dia bertanya, meletakan cerminnya.
“Baik, terima kasih, Bu. Aku mandapat peringkat pertama pada pelajaran bahasa Perancis, bahasa Inggris, Kimia, Matematika, dan bahasa Latin. Yang kedua, saat Yunani Kuno dan Geografi. Ketiga...”
“Ah! Ini dia Mitzy datang membawa tehnya!” Ibunya menyela, menguap malas. “Yang paling kusukai. A teensy-weensy tea.”
Pintu depan rumah terbuka dan sebuah troli bersusun tinggi dengan kue-kue dan roti lapis telah muncul, terlihat seperti bergerak sendiri. Seraya trolinya bergerak mendekat, seorang wanita mungil bisa terlihat dari baliknya, mengenakan gaun hitam dengan apron putih. Ini adalah Mitzy, pelayan keluarga selama lebih dari empat puluh tahun.
“Halo Tuan Tad!” ia berdeguk terengah-engah sambil menarik trolinya hingga berhenti. Itu sangat berat sampai meninggalkan jejak ban yang dalam melintasi halaman rumput.
“Halo, Mitzy.” Tad tersenyum kepadanya. “Bagaimana kabarmu?”
“Aku tidak bisa mengeluh, Tuan Tad.”
“Dan Bitzy?” Ia adalah suami Mitzy. Nama sebenarnya adalah Ernest tapi ia diberikan nama panggilan itu setelah ia terkena ledakan dari pipa gas induk.
“Dia masih berada di rumah sakit.” Mitzy menghela napas. “Aku akan menjenguknya hari Minggu ini.”
“Baiklah, sampaikan salamku kepadanya,” kata Tad dengan ceria, mengambil sendiri sebuah salmon asap gulungnya.
Mitzy tertatih –tatih kembali ke rumah selagi Tad sedang makan. Nyonya Spencer melemparkan pandangan sinis pada anaknya. “Apakah berat badanmu naik?” tanyanya.
“Hanya sedikit, Bu. Aku khawatir Ibu benar-benar harus membelikanku seragam baru untuk semester depan. Yang satu ini sudah sangat ketat.”
“Yang benar saja! Ini yang sudah ke tiga kalinya tahun ini.”
“Aku tahu. Tapi karet celana dalamku melorot saat pidato kepala sekolah. Itu sangat memalukan...”
Kemudian ada suara gonggongan keras dan seekor anjing berlari menyebrangi halaman rumput menuju Tad dan ibunya. Itu jenis Dalmatian—kau bisa dengan mudah mengenalinya dari bulunya yang berwarna hitam dan putih—tetapi itu bukan seperti Dalmatian biasa yang sering kau lihat.
Pertama, ukurannya amat besar. Giginya sangat tajam, dan mulutnya, alih-alih menyeringai dengan ramah seperti yang Dalmatian biasa lakukan, wajahnya malah merengut dengan seram. Penyebab dari semua itu adalah Spencer pernah membawa anjing malang itu ke dokter hewan yang membuatnya menjadi mesin pembunuh, mengasah gigi dan cakarnya hingga mereka menjadi setajam jarum. Pencuri terakhir yang mencoba untuk masuk harus mendapatkan 107 jahitan saat Vicious selesai menyerangnya. Pada akhirnya, ahli bedah kepolisian kehabisan benang dan memaksa mereka menggunakan lem.
Tetapi Vicious mengenali Tad. Terengah-engah dan merengek, si anjing duduk dan mengangkat satu kakinya, matanya terpaku pada troli pembawa teh.
“Halo, Vicious. Bagaimana kabarmu?” Tad menggapainya dengan sebuah kue eclair. Si anjing pun melompat dan separo lengan Tad menghilang masuk ke dalam kerongkongannya, seraya Vicious memakan eclair-nya.
“Kau terlalu memanjakan anjing itu,” ujar ibunya.
Setelah waktu minum teh, Tad pergi ke kamarnya, menaiki lift ke lantai tiga. Spurling sudah membawa barang-barangnya dan Bu O’Blimey, si pengurus rumah yang merupakan orang Irlandia, telah membongkarnya. Tad duduk di atas empat lapis kasurnya dan melihat sekelilingnya dengan puas. Semuanya telah berada di tempat yang semestinya. Di sana ada dua buah komputer dan empat belas rak game komputer. Ada juga televisi portable yang telah disambungkan ke alat perekam video dan sistem satelit. Buku-buku favoritnya (Dickens and Shakespeare) dijilid rapi dengan kulit dan emas, berjajar dalam barisan yang panjang di atas koleksi kupu-kupunya, stereo dan sistem CD interaktif dan tangki berisi ikan tropis langka. Lalu, ada sembilan lemari berisi pakaian, dan di sampingnya ada sebuah pintu menuju kamar mandi pribadi, sauna dan Jacuzzi.
Tad meregangkan lengannya dan tersenyum. Dia punya liburan musim panas yang amat ia nantikan. Seperti rumah gaya pedesaan di Suffolk, ada juga sebuah vila di Perancis selatan, sebuah rumah tempat tinggal atap di New York dan rumah deretan kadang kuda di Knightsbridge, yang letaknya berada di pinggiran Harrods. Dia membuka kancing jaketnya dan membiarkannya tergeletak di lantai. Bu O’Blimey yang akan mengambilnya nanti. Ini sudah waktunya untuk makan malam. Dan sebentar lagi ayahnya akan pulang ke rumah.
Pada kenyataannya, Sir Hubert Spencer baru sampai di rumah lewat dari jam sembilan malam. Dia adalah sosok yang besar, terlihat seperti orang penting dengan rambut peraknya yang bergelombang dan bercak ungu pada kedua pipinya, di hidung dan juga tangan. Dia selalu mengenakan jas hitam polos yang terbuat dari bahan terbaik. Seraya ia belangkah ke ruangan dan duduk, ia mengeluarkan jam sakunya yang antik dan memandang sekilas pada wajah di depannya.
"Malam, Tad," katanya, "Senang rasanya bisa melihatmu. Sekarang, aku bisa memberikanmu waktu sembilan setengah menit..."
"Hore! Terima kasih, ayah."
Tad merasa bahagia. Dia tahu kalau ayahnya adalah orang yang sibuk. Kenyataannya, bisnisnyalah yang mengatur hidupnya.
Sepuluh tahun lalu, Sir Hubert Spencer membangun usahanya yang sekarang sudah memiliki banyak cabang, tersebar luas hingga menyebrangi Inggris, Eropa, dan Amerika. Toko-tokonya dinamai dengan "Beautiful World" atau Dunia yang Indah, toko-tokonya menjual sabun, sampo, body lotions, sun cream, vitamin, mineral, herba dan rempah-rempah... segala hal yang membuat kau merasa cantik dari dalam dan luar. Apa yang membuat toko-tokonya spesial adalah bahan-bahan yang terkandung dalam produknya datang dari "Third World" atau Dunia Ketiga (maksudnya Dunia Ketiga adalah istilah yang diciptakan untuk membedakan negara-negara yang tidak bersekutu dengan Blok Barat ataupun Blok Soviet pada masa Perang Dingin. Namun sekarang ini istilah ini sering dipergunakan untuk merujuk negara-negara yang mempunyai Indeks Pengembangan Manusia PBB (IPM)) - dengan susu yak (lembu berbulu panjang) dari pegunungan di Tibet, contohnya, atau bunga anggrek yang dihancurkan dari hutan hujan di Sumatra. Dan semua toko ditempeli pengumuman dengan huruf besar-besar di jendela bertuliskan:
TIDAK ADA PRODUK KAMI YANG DIUJICOBAKAN PADA HEWAN
Sir Hubert menyadari kalau orang-orang tidak hanya ingin terlihat baik tetapi juga ingin merasa baik. Dan semakin mereka merasa baik, semakin banyak yang akan mereka habiskan dan membuatnya semakin kaya.
Sir Hubert tidak pernah berhenti untuk selalu mengembangkan produk barunya, menemukan bahan-bahan baru, memperluas ide iklan yang segar, dan menjual lebih banyak produk.
Hal itu dikatakan saat ia diberikan penghormatan sebagai seorang ksatria oleh Sang Ratu, dua tahun sebelumnya, dia mampu untuk menjual sepuluh galon krim wajah dan sampo rumput laut dari Jepang untuk persediaan seumur hidup. Beliau muncul di halaman depan seluruh koran setelah itu. Karena berdasarkan kekayaannya yang sangat hebat, Sir Hubert amatlah popular. “Orang tua yang sangat baik, Sir Hubert!” orang-orang akan meneriakinya saat mereka melihatnya di jalan. “Dia memang orang yang sangat kaya, tapi ia juga orang yang baik.”
Alasan kepopulerannya—dan juga atas sikap ksatrianya—adalah kegiatan amalnya. Pada saat yang bersamaan sewaktu ia membangun Beautiful World, dia mulai membangun sebuah badan amal yang bernama ACID. Kepanjangannya adalah Association for Children in Distress atau asosiasi untuk anak-anak yang kesusahan, dan badan tersebut berada di London. ACID bertujuan untuk membantu semua anak muda terlantar di kota, memberikan mereka perlindungan, dan memberikan mereka makanan dan pakaian. Tad sendiri sudah mendonasikan dua pasang kaos kaki dan sebatang cokelat Mars untuk amal. Dia amat bangga atas ayahnya dan bermimpi jika suatu saat, mungkin saja, dia bisa jadi ksatria juga.
“Maaf, aku terlambat,” Sir Hubert mengumumkan hal itu sekarang seraya duduk di atas kursi berlengan dekat perapian dengan Vicious yang bergelung di kakinya. “Kami mendapat masalah dengan busa mandi daun kokoa Peruvian kami yang baru. Kami harus melakukan lebih banyak tesnya lagi…” Dia berpaling pada Spurling yang berdiri di sampingnya. “Apa kau sudah menuangkan brandy untukku, Spurling?”
“Ya, Sir Hubert.”
“Apa kau sudah menghangatkannya untukku?”
“Ya, Sir Hubert.”
“Yah, kau bisa meminumnya juga untukku. Aku tidak punya banyak waktu.”
“Tentu saja, Sir Hubert.” Mengambil gelasnya, Sang supir membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan.
Sir Hubert berbalik pada Tad yang sedang bermain scrabble dengan Nyonya Spencer. Tad merasa agak terganggu. Dia punya kata yang memiliki tujuh huruf tapi sayangnya dalam bahasa Yunani Kuno. “Jadi, Tad,” dia berseru. “Bagaimana sekolahmu?”
“Baik sekali, ayah.” Aku mendapat peringkat pertama untuk bahasa Perancis, bahasa Inggris, kimia, matematika, dan bahasa Latin.” Peringat kedua pada…”
“Itu yang dinamakan semangat!” Sir Hubert memotong. “Sekarang. Apa rencanamu untuk liburan musim panas?”
“Yah, aku berpikir untuk berkunjung ke safari di Afrika, ayah.”
“Bukankah kau sudah pernah melakukannya tahun kemarin?”
“Ya, tapi itu cukup menyenangkan. Salah satu penjaganya dilahap seekor harimau. Aku berhasil memotret foto-foto yang bagus.”
“Aku kira kau ingin pergi ke Laut Merah.”
“Kita bisa melakukannya setelahnya, ayah.”
“Oh – baiklah.” Sir Hubert berbalik ke arah istrinya. “Lebih baik kau membawanya ke Harrods dan membelikannya beberapa baju tropis,” katanya. “Oh – dan pelatihan scuba diving.”
“Dan ada satu lagi, ayah.”
“Apa itu, Tad?” Ada suara berbunyi dari saku jaket atas Sir Hubert dan dia mengambil salah satu ponselnya.
“Bisakah kau tahan dulu sebentar sambungan teleponnya, tolong,” katanya, “aku akan bicara padamu sembilan puluh tiga detik lagi.”
Tad menarik napas dalam-dalam. “Rupert bilang ia akan datang minggu ini. Ayah tahu – dia sahabatku. Dan kami pikir, kami bisa berkunjung ke Menara Maple bersama.”
“Menara Maple?”
“Itu taman bermain yang baru saja buka. Ada wahana baru yang sangat hebar—the Monster. Rupanya hampir mustahil untuk bisa naik tanpa merasa mual…..”
“Taman bermain?” Sir Hubert mempertimbangkannya, lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak berpikir itu adalah hal yang bagus.”
“Apa?” Tad memandangi ayahnya. Mungkin kata yang tak ia sangka-sangka yaitu ‘tidak’ adalah kata yang berada di peringkat terakhir dari semua kata favoritnya.
“Tidak, Tad. Taman bermain terlihat terlalu berbahaya untukku. Kenapa kau tidak mencoba menunggang kuda di Ascot?”
“Bagaimana kalau ikut pelatihan penerbangan? Kau hampir tidak pernah menyentuh pesawat mini untuk dua penumpang yang ayah belikan….”
“Aku akan melakukannya, ayah, tapi….”
“Tidak, aku tidak ingin kau menaiki wahana-wahana itu. Itu semua berbahaya dan berisik. Dan dengan sebegitu banyaknya orang di sana! Kau itu anak yang sensitif, Tad. Aku yakin mereka tidak baik untukmu.”
“Tapi ayah! Ibu…..!”
“Aku harus setuju pada ayahmu,” kata Lady Spencer. Dia melihat ke huruf-huruf Scrabbles yang sudah ia pelajari selama sepuluh menit. “Apakah ‘Zimpy’ itu sebuah kata?” tanyanya.
Tad dalam suasana hati yang buruk saat ia akan pergi tidur. Ia mengenakan piyama sutra yang baru, ia mematikan lampu dan menyelusupkan dirinya diantara seprai linen asal Irlandia yang baru saja dicuci. Masalahnya adalah ia adalah seorang anak laki-laki yang terbiasa untuk memiliki segalanya. Dia sudah mengharapkannya.
“Ini tidak adil,” dia berkomat kamit. Dia membenamkan kepalanya ke bantal berisi bulu angsanya. Sinar bulan menyelusup menyebrangi dinding dan wajahnya yang pucat dan memberenggut. “Kenapa aku tidak boleh pergi ke taman bermain? Kenapa aku tidak boleh melakukan apa yang aku mau?”
Tiba-tiba Snatchmore Hall terlihat seperti penjara baginya. Orangtuanya, kekayaannya yang hebat, sekolahnya, sekelilingnya hanya belenggu yang memenjarakannya dan dia tidak ingin semua ini lagi.
“Aku harap aku adalah orang lain,” dia berkata pada dirinya sendiri.
Dan 127 tahun cahaya nan jauh di sana, sebuah bintang yang bersinar putih tiba-tiba bersinar hijau, hanya dalam beberapa detik, sebelum kembali bersinar putih lagi.
Tapi Thomas Arnold David Spencer tidak melihat itu. Dia sudah terlelap.

Comments

Popular Posts