FF BaekYeol : Goodbye Summer (Chapter 1)
Title :
Goodbye Summer
Author :
Who Am I?
Cast :
Byun Baekhyun, Park Chanyeol, and SM Family.
Genre :
Yaoi, School Life, Yaoi
Note :
Pertama kalinya bikin FF BaekYeol, karena baru-baru ini lagi suka mereka haha..
maaf tumin, saya selingkuh dulu, tenang aja saya masih cinta kalian kok xD
(2min : who’s care about you, author? Our love is too precious, so it will be
forever without you..!! me : /cries/ /sobs/ ;AAA;) #abaikan
Chanyeol POV
Tahun ajaran pertamaku di sekolah menengah atas, dan untuk
hari pertama yang seharusnya bersejarah dan akan kuingat terus sampai kelulusan
ini berawal dengan kebiasaan lama yang sulit untuk dihilangkan, yah, aku
terlambat lagi.
Aku berlari-lari seperti orang kesetanan, berusaha untuk
mengejar bus selanjutnya yang akan datang beberapa menit lagi setelah bus
pertama yang (tentu saja) sudah aku sia-siakan, rambutku pasti tampak
acak-acakan lebih dari biasanya, seragam baruku yang lebih pendek dari ukuranku
(karena Ibu tidak bisa menemukan ukuran yang pas, karena tinggiku yang diatas
rata-rata dan badanku yang kelewat kurus) ini menggantung asal-asalan tanpa
terkancing dengan benar, untung saja ini masih musim gugur, jadi aku tidak akan
terkena angin dingin walau hanya memakai 2 lapis pakaian.
Bus dambaanku datang tepat setelah aku menginjakkan kaki di
halte bus, tanpa menunggu aku ikut naik bersama penumpang yang lain, berdiri
berdesak-desakkan, aku sudah tak heran kalau aku tidak mendapatkan tempat
duduk, mengingat aku penumpang yang hampir ketinggalan bus lagi.
Aku memperhatikan sekelilingku sambil bergelantungan pada
pegangan, tidak ada yang istimewa ternyata, kebanyakan orang-orang yang akan
berangkat kerja, sebagian kecil yang lain adalah anak sekolah, ternyata ada
juga yang terlambat sepertiku, semuanya tampak sibuk dengan urusannya
masing-masing, lalu pandanganku tiba-tiba tertuju pada seorang namja pendek ini,
tinggi kepalanya tidak lebih dari telingaku, (kecil sekali seperti anak SMP,
ditambah wajahnya yang kekanakan) dan ia memakai seragam yang sama denganku,
mulutnya menggerutu tapi tanpa suara, wajahnya kelihatan kesal, dan tanpa sadar
aku jadi memandanginya. Sialnya, ia menyadari tatapanku sebelum aku
berpura-pura menatap kea rah lain, kemudian ia melemparkan pandangan
apa-yang-sedang-kau-lihat-enyahlah-dari-pandanganku.
Aku mendengus kesal, hari pertamaku ini pasti akan jadi hari
yang menyenangkan sekali.
_______yeoreuma ijen goodbye_______
Melewati gerbang akan percuma, pasti sudah ditutup. Kakiku
langsung memutar dengan otomatis kearah dinding di samping gedung olahraga,
sekolah ini lumayan sudah ku hapal tata letaknya. Dalam sekali lompatan aku
telah sampai di atas, dan mengambil ancang-ancang untuk melompat turun, sampai
ku dengar suara dari balik dinding.
“Hei kau..” serunya padaku. Aku berbalik, melongo melihat
pemuda mungil yang tadi aku lihat di bus mendongak menatapku penuh harap.
“Apa?” tanyaku setengah berbisik, aku tak ingin ketahuan
hanya karena anak ini.
“Bisakah kau membantuku naik juga?” tanyanya lagi, tanpa
memandangku. Tanpa sadar aku terkekeh pelan.
“Kakimu pendek sekali, bagaimana aku bisa membantumu naik?”
“KAU.. Kurang ajar, kalau tidak mau membantuku ya sudah,
jangan menghina tinggiku!” teriaknya kesal, lalu ia berbalik dan berniat untuk
pergi, otomatis aku langsung memanggilnya lagi.
“YA! Aku hanya bercanda! KAU TIDAK INGIN IKUT UPACARA MURID
BARU?!” teriakku lagi berusaha memanggilnya lagi. Ia berhenti lalu berbalik
berjalan menuju dinding tempatku duduk lagi, aku tersenyum geli melihatnya,
mana ada orang yang berubah pikiran secepat dia?
“Jangan menertawaiku, bantu aku naik!” namja itu masih saja
menekuk wajahnya waktu kami sudah ada di atas tanah, sama-sama dengan tampang
acak-acakkan karena harus beberapa kali aku menggapai tangannya dari atas dan
dia juga harus bersusah payah memanjat dinding dengan kaki ….ehm pendeknya itu.
Tapi sebelum aku mengajaknya menyelinap untuk masuk ke
barisan upacara, sebuah suara membekukan gerakan kami berdua yang tengah
mengatur napas.
“Hei haksaeng (murid).. Terlambat di hari pertama, huh?”
suara rendah laki-laki terdengar pelan namun terdengar amat menusuk, aku
berbalik, mengajak namja kecil di sebelahku untuk lari lewat isyarat mata, tapi
ia tidak menangkapnya dengan baik dan malah menatapku dengan penuh tanya.
“Jangan mencoba untuk lari kalau kalian tak ingin aku
habisi..” kata laki-laki tinggi itu penuh ancaman, ia menangkap kedua lengan
kami seperti seorang polisi yang memergoki pencuri yang akan kabur. “Ikut aku!”
Untung saja ia tak membawa borgol!
Sial.
_______yeoreuma ijen goodbye_______
Baekhyun POV
“Byun Baekyun.. dan Park Chanyeol.. Hari ini langit amat
cerah, dan daun-daun gugur dari pepohonan, sayang sekali kalau kalian melewatkan
pemandangan indah ini, kalian juga harus membentuk otot tangan kalian, dan
sepertinya halaman sekolah sudah cukup kotor oleh dedaunan kering ,ya kan?”
laki-laki yang berlagak seperti polisi tadi ternyata seorang guru matematika
bernama Cho Kyuhyun (aku sempat melihat agenda yang ia namai namanya sendiri,
ia pikir dia anak TK atau apa, sudah sebesar ini masih saja memberi nama
bukunya?).
Cho Saem memberikan kami evil smirk-nya yang agak menakutkan
itu pada kami, aku mendongak untuk menatap wajah laki-laki jangkung yang tadi
membuatku ikut memanjat pagar karena diiming-imingi upacara bodoh. Entah aku
yang bodoh atau dia, yang jelas kami ini sama-sama sial, tapi ekspresinya
tampak tenag-tenang saja.
“Silahkan laksanakan tugas suci kalian, sapu halamannya ada
di ruang kebersihan.” Tangannya dikibas-kibaskan, dikiranya kami ini anak ayam
atau apa.
“Kenapa kau cemberut terus, sih? Hei lagipula kan enak
membolos sehari, tidak perlu ikut sesi perkenalan yang canggung, nanti juga
akan kenal sendiri, ya kan? Dan juga seperti yang Evil Saem tadi bilang,
pemandangannya bagus!” aku mendengar Chanyeol berusaha menghiburku selagi kami
menyapu dengan asal-asalan, aneh sekali orang ini, masa’ disaat-saat seperti
ini dia masih saja bisa tersenyum senang begitu, tapi aku jadi ikut rileks
melihat senyuman di wajah jenakanya itu. “Nah, begitu baru bagus, wajahmu lebih
cocok kalau tersenyum begitu, terlihat agak bodoh sih, tapi masih lebih baik
daripada yang tadi, haha!”
Aku menarik kata-kataku yang tadi, bahaya tidak ya, kalau
aku menyodok hidungnya dengan sapu?
“Jangan banyak bicara, Park Chanyeol! Ini semua gara-gara
kau!”
“Wah, kau mengingat namaku dengan baik ya..” lalu ia
tersenyum lagi, “tapi ini kan bukan salahku, siapa tadi yang meminta bantuanku,
huh? Kau kan juga terlambat tadi!” katanya membela diri.
“Baiklah.. terserahmu sajalah..”
“Ucapan terima kasihnya mana?” ia melirikku, masih dengan
senyum menggodanya, sepertinya orang ini memang mudah sekali senang.
“Eobseo.. (tidak ada)” kataku datar.
Kemudian ia tertawa, tanpa aku tahu dimana letak lucunya.
“Kau ini memang keras kepala ya, Baekhyun-ah?” Aku terkejut
mendengarnya memanggilku dengan panggilan akrab, tapi aku berusaha menjauh
darinya, bersama sapuku, dan daun-daun bedebah ini.
“Hei..Hei.. jangan takut begitu, ayo kita berteman!” Ia
membawa sapunya lalu berjalan mendekatiku dengan langkah-langkah lebarnya,
sebelah tangannya merangkul leherku dekat. Sial. Aku pendek sekali disamping
orang ini. Aku harus minum susu yang banyak.
“YA! Jangan memeluk orang sembarangan, aku..tidak.. bisa..
hahaha.. hentikan.. bodoh! Jangan.. argh.. jangan sentuh leherku!! Hahaha..” Ia
menggelitiki leherku tanpa ampun. Ya Tuhan, bagaimana bisa orang ini tahu titik
terlemahku dimana? Aku yakin mulai sekarang ia akan menggangguku terus-terusan.
Dilihat dari cara dia mengajakku berteman tadi.
Chanyeol POV
Tawa pertamanya. Dan aku rasa aku menyukainya karena feelingku berkata kami akan menjadi teman yang baik.
Dan instingku itu biasanya selalu benar.
TBC


Comments
Post a Comment