FF 2Min : (Un)officially Loving you/ Chapter 1/Yaoi
Title : (Un)officially Loving you/
Chapter 1
Author : Flo
Cast : 2Min
Genre : Yaoi, school-romance
Hei Taemin, kau
tahu? Aku merasa ada dinding tinggi yang menyebalkan diantara kita, seakan kau
ada di dunia yang berbeda dariku. Namja
itu seakan larut dalam dunianya sendiri, sibuk dengan pena dan buku
catatan kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Tampak terasing, menjauh dari
keramaian yang terasa seperti udara bagiku.
Ya, bisa dibilang
aku ini termasuk namja yang cukup popular karena aku adalah seorang kapten tim basket
disekolah. Bagi mereka, aku ini seperti piala bergilir yang dielu-elukan bila
tim kami memenangkan pertandingan basket antar sekolah, dan bila moment itu
sudah lewat, aku akan di simpan dan hanya bagus untuk dipajang dan
dilihat-lihat. Memuakkan.
Tim basket kami
baru saja selesai bertanding, dan hasilnya menang telak, teman-teman yang lain
merayakan kemenangan kami, pertandingan basket melawan sekolah bebuyutan kami,
SMA Kirin, semua orang berbondong-bondong mambawa kami ke ruang rekreasi,
tempat para penghuni asrama kami beristirahat bersama.
Lain daripada malam
yang biasanya, namja berkulit sepucat susu itu sibuk membolak-balik buku
bacaannya yang tebalnya saja aku malas melihatnya, ia tampak sangat tenang,
berada di pojok, duduk di pinggiran jendela yang langsung menghadap ke taman.
Butiran – butiran air bekas hujan tadi bergulir turun di kaca jendela, seakan
menjadi latar yang cocok dengan namja cantik itu.
“Hei Minho,
chukkae~! Kau tadi hebat sekali! Luar biasa! Dan saat kau mencetak angka 3 poin
tadi..” Jong Suk menggeleng-gelengkan kepalanya, berakting seakan kehilangan
kata-katanya, “…dan
kau tahukan, seperti biasanya, kami sedikit lapar sesudah mendukung tim kalian
dengan semangat penuh seperti tadi..” ia menepuk bahuku sambil menyunggingkan
senyum liciknya. Cih. Kenapa tidak minta langsung saja, terlalu banyak
basa-basi. Menyebalkan.
“Terserah kau
sajalah..” jawabku pendek, masih sibuk dengan pemandangan indah didepanku,
kalau saja ada kesempatan untuk mengajak bicara anak itu.
“YEAH! Teman-teman!
Ayo kita ke kantin, Minho yang bayar! Hahahaha” aku mendengar Jong Suk berseru
kepada yang lain, mereka mengikuti Jong Suk seperti anak ayam yang mengikuti
induknya, bergegas menuju kantin dengan berisik. Perhatianku kembali tertuju
kepada Taemin, sesekali ia menyunggingkan senyumnya yang sungguh menawan itu,
kejadian yang sangat langka.
Kemudian kulihat ia
beranjak berdiri, menaruh pembatas buku dihalaman yang belum ia baca, lalu
berlalu keluar ruang rekreasi asrama kami. Aku menyambar sweater abu-abuku yang
tersampir di sofa, lalu bergegas mengikutinya.
Aku berusaha
menjaga jarak dengannya, menahan diri dengan keras untuk menatap punggungnya
lebih dekat lalu menyentuhnya dengan jari-jariku. Merengkuhnya dan mendekapnya
dalam dadaku, lalu menyesap aromanya. Apakah sehangat yang aku bayangkan? Lee Taemin, kau membuatku gila.
Ia berjalan lurus,
seolah berada di dimensi lain, ia bergerak dengan santai, berbelok di koridor,
menuju ke tangga, lalu naik ke lantai dua. Kemana lagi kalau bukan
perpustakaan, aku tahu karena aku sudah lama mengamatinya, bahkan
berbulan-bulan yang lalu, diam-diam aku mengikutinya ke perpustakaan yang super
sepi itu, genre buku favoritnya tak pernah berubah, misteri, pembunuhan,
fantasi, fiksi-ilmiah, kadang-kadang buku sastra yang sungguh melenceng dari
genre lainnya. Kadang ia memejamkan matanya sebentar, menyembunyikan kedua
manik coklatnya yang mengagumkan itu, aku mengira-ngira apa ia baru saja
menahan bait-bait puisi dalam pikirannya?
Orang itu, Lee
Taemin, kadang aku berpikir, kenapa ada orang seindah dia seakan berusaha
menarik diri dari orang-orang lain? Padahal aku yakin banyak orang yang mau
berteman dengannya, bila ia tak bersikap sepasif itu.
Tepat seperti
dugaanku, namja cantik itu menelusuri deretan buku terjemahan di rak-rak kayu
dengan jari-jarinya yang kecil, apakah sekecil yang aku pikir? Entahlah, aku
harus membuktikannya suatu hari nanti. Bila keberanian si pengecut ini muncul.
Akhirnya ia menentukkan satu pilihan, ia memang memiliki kebiasaan tidak pernah
mambaca buku sampai halaman terakhir. Setelah beberapa halaman lagi tamat, ia
akan buru-buru menutupnya, lalu meminjam buku yang baru.
Dengan setengah
melamun, aku masih setia memandang namja itu. Aku mengira- ngira apa ia tak
pernah menyadari keberadaanku atau memang berpura-pura tidak melihat? Hanya Lee
Taemin seorang dan Tuhan yang tahu.
Ia menopang dagunya
di meja, sementara tangan yang satunya menghadap dengan setia kearah
‘kekasihnya’ itu, setelah beberapa menit, ia menutup bukunya tiba-tiba, lalu
mengangkat kepalanya, memandang langsung ke arah mataku, menatapku tajam,
menusuk langsung keulu hatiku. Kaget. Aku hanya terdiam balas memandangnya.
Merasakan jantungku bertalu-talu ketika pandangan kami bertemu untuk pertama
kalinya.
“Orang tak dikenal,
kenapa kau memandangiku begitu? Matamu sangat besar, sangat menyeramkan tahu..”
katanya dengan tegas, mengomeliku dengan suara indahnya yang berdenting merdu,
suara termurni yang pernah kudengar. Dan yang paling menakjubkan dari semua ini
adalah TAEMIN BICARA KEPADAKU! CHOI MINHO SI PENGECUT INI! Hahaha..
Aku berusaha
mengontrol luapan rasa senang yang meledakkan hatiku ini dengan membalas
tatapannya dengan senyuman. Bukan senyum percaya diri seorang Choi Minho yang
biasanya, tapi senyuman gugup seperti seseorang yang tertangkap basah sedang
melihat orang asing melakukan hal-hal pribadi didepannya secara
sembunyi-sembunyi.
Masih dengan senyuman
seperti orang bodoh, akhirnya aku menemukan suaraku “Sorry, tapi siapa juga
yang memandangimu?” Baiklah Choi Minho, kau namja super duper bodoh, yang baru
saja melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengan malaikat itu, malaikat yang
membuatmu jadi orang tak waras karena menghabiskan waktu dengan menguntitnya, dan
memandanginya diam-diam.
“Ck, dasar orang
aneh..” gumamnya.
A.. Aneh?
Jangan-jangan dia tak mengenalku? Ya ampun, bukannya sombong, tapi namja cantik
dan yeoja-yeoja diluar sekolahku saja tahu tentang aku, bahkan ada yang
mengirimiku surat-surat cinta murahan yang langsung kubuang ke tempat sampah
terdekat.
“Hei.. kau..
jangan-jangan kau tidak tahu siapa aku ya?”
“Hmm?” Taemin
memandangku dengan bingung, mengerjabkan mata coklatnya yang sangat kusuka itu.
Astagaaa.. Breath Minho, breath~ Aku mengatur napasku, mencoba bernapas dengan
benar dibawah tatapan polosnya yang memabukkan “Molla, aku tak mengenalmu..”
lanjutnya. Aku menghela napas pasrah. Sudah kuduga, aku merasa perjuanganku
untuk mendapatkanmu masih jauh, Lee Taemin-ssi.
TBC


Comments
Post a Comment