FF Jo Twins : Me and The Twins (Part 1)


Tittle              : Me and The Twins
Author            : Flo 1412
Genre              : ?????
Cast                 : Lee Ji Eun (IU), Jo Youngmin, Jo Kwangmin
Rating             : T
Length            : Part

Ji Eun menyandarkan punggungnya yang sempit pada kursi kayu di depan rumahnya. Rumahnya tak terlalu besar, tapi terasa sangat nyaman untuk ditinggali. Ia menatap hitamnya langit malam sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Seirama dengan ritme nada yang ia dengarkan lewat headphone yang sedang bertengger di telinganya.

Lalu tiba-tiba ada sepasang tangan besar yang menutup kedua matanya. Sempat kaget tapi kemudian ia tersenyum lebar. Hmm.. manis. “Youngie!” tebaknya dengan suara yakin, lalu berusaha untuk membebaskan matanya dari kedua tangan namja itu.

“Ah, Noona.. aku memang tidak pernah menang darimu..’ Youngmin mendengus pura-pura kesal, lalu membalas senyuman yeoja yang lebih tua darinya itu dengan senyuman yang tak kalah manis.

Mendengar Youngmin protes, Ji Eun hanya terkekeh, lalu menepuk-nepuk tempat kosong di kursinya. Menyuruh Youngmin duduk di sampingnya.

“Apa kau memanjat lagi hari ini?” Ji Eun bertanya lalu terkikik pelan. Youngmin punya kebiasaan memanjat dinding yang persis bersebelahan dengan rumahnya itu. Memang jarak antara gerbang dan taman agak jauh, karena letak tama nada di belakang, dan Youngmin tahu, pasti Noona-nya itu ada disana. Entah kenapa jadi berlangsung terus menerus.

“Yap..” kata Youngmin sambil meringis.

“Kenapa? Kau tidak bisa tidur lagi?” tanya Ji Eun santai saat Youngmin menyandarkan kepalanya pada bahu sempit Noona-nya itu. Rumah mereka memang bersebelahan, dan mereka sudah berteman sedari kecil. Jadi sudah tidak ada lagi perasaan canggung diantara mereka.

“Ne..Insomnia. Biasalah Noona. Lalu kau kenapa?” Youngmin ikut mendongakkan kepalanya melihat langit malam itu, meniru Ji Eun.

“Aku hanya.. Yah.. Sedang banyak pikiran,” jawab Ji Eun “Kwangie mana?”

“Kwang sudah tidur, aku iri sekali dengan dia, dia bisa tidur dimana saja, kapan saja, dalam situasi apapun. Bahkan aku yakin, kalaupun ada gempa sekalipun, Kwang akan dengan damainya tidur, tanpa terganggu sedikitpun”

“Yeah, kadang aku juga iri padanya. Hidupnya seakan tanpa rasa beban..” kata Ji Eun, tersenyum saat mengingat tingkah laku Kwangmin.

“Waeyo Noona? Apa ada masalah?” tanya Youngmin, menegakkan kepalanya, lalu memandang Ji Eun dengan tatapan khawatir.

“Ani.. Hanya sedikit masalah di kampus..” kata Ji Eun sambil tersenyum menenangkan, tangannya mengusap-usap rambut coklat terang Youngmin dengan sayang.

“Ngomong-ngomong, kau bertambah tinggi banyak sekali tahun ini Youngie, bahkan melebihi Kwangie..”

“Tentu, tentu.. Aku bisa lebih tinggi lagi. Aku kan masih masa pertumbuhan. Aku akan mengalahkan tinggi badanmu jauh Noona.. Hahaha”

“Sial. Aku pendek sekali kalau berdiri di samping kalian sekarang, padahal waktu kecil kau dan Kwangie pendek sekali, jauh sekali dari aku..” Ji Eun menggembungkan pipinya sebal.

‘Tentu saja Noona, tidak sia-sia aku minum 2 liter susu murni setiap hari.. Hahaha’ ujar Youngmin dalam hati, lalu tersenyum penuh kemisteriusan.

“Hey.. Hey.. Senyummu itu mencurigakan tahu?”

Youngmin tergelak, lalu menguap panjang.

“Tidurlah” Ji Eun menepuk-nepuk bahu Youngmin, menyuruhnya pulang kerumahnya sendiri.

Youngmin beranjak berdiri dari kursi kayu itu, lalu mengecup puncak kepala Ji Eun dengan santai. Tak mempedulikan omelan pelan Ji Eun karena menciumnya sembarangan, kemudian bergumam mengucapkan selamat malam pada Noona kesayangannya itu lalu berjalan ke rumah berpagar biru di sebelah rumah Ji Eun.

Ji Eun menepuk kedua pipinya pelan, beranjak dari kursi favoritnya itu lalu terseok-seok memasuki kamarnya yang berada di lantai dua. Tak ada siapa-siapa dirumahnya, seperti biasa. Hanya seorang pembantu, yang sering ia panggil Ahjumeonni yang tinggal pada siang hari, lalu pulang sore harinya.

Sedangkan orangtua Ji Eun? Ibunya sudah lama meninggal saat melahirkan Ji Eun, Ayahnya yang super sibuk sering berpindah negara untuk urusan bisnis, namun tidak pernah kehilangan kontak dengan anak semata wayangnya itu.  Ji Eun lebih memilih tinggal dirumah favoritnya di Seoul karena ada Si Kembar -yang setengah menggemaskan dan setengah menyebalkan itu- yang selalu menemaninya, lalu lebih nyaman tinggal dirumah tempat Ibunya tinggal dulu.

Baiklah, memang saatnya Ji Eun tertidur sekarang, karena matanya tiba-tiba tidak bisa diajak berkompromi lagi. Ia menghempaskan tubuh mungilnya yang tidak sesuai dengan umurnya itu ke kasur empuknya, berbalik, lalu terlelap.

Comments

Popular Posts