FF Jo Twins : New Life Without You (part 1)


Title : New Life Without You (part 1)
Author : Cindy Martha Ayudiah (nama asli saya ^////^)
Genre : Family, sad, angst, romance
Rating : T
Cast : Jo Youngmin, Jo Kwangmin, Yoon Min Ji, Park Jung Soo, dll
Length : Part

“Jo Youngmin, kau di panggil Jung Soo songsaenim ke ruangannya sekarang” ujar Jonghyun, teman sekelas ku saat bel istirahat berbunyi.

Aku menghela nafas. Untuk kesekian kalinya, aku dipanggil keruangannya untuk membahas masalah yang sama. Tapi tetap saja, aku menaiki tangga menuju ke kantornya yang berada di lantai 2 dengan lambat.

Aku menatap pintu di depanku lalu mengetuknya tiga kali. Lalu terdengar suara Jung Soo songsaenim berkata, “Ya, masuklah..” Aku menekan grendel pintu itu lalu membukanya, tampaklah Jung Soo songsaenim yang tengah duduk di belakang meja kerja nya. Dengan melihat ruangannya, kau sudah tau bahwa dia tipe orang yang mencintai kebersihan, semua serba mengkilat tanpa noda dan rata – rata perabot dan barang – barangnya yang berwarna putih susu. Membuat ku teringat akan suasana rumah sakit. Dan itu malah membuat perasaanku makin tidak enak.

Aku melangkah mendekatinya, ia tersenyum tipis kepadaku, lalu menunjuk sofa di depan meja kerjanya, menyuruhku duduk. Ia ikut duduk di sofa empuk di depanku. “Bagaimana keadaanmu sekarang?? Kau sudah bisa tidur??”

“Ya, aku baik – baik saja sekarang..” gumamku sambil memperhatikan lantai mengkilap dekat kakiku. Tanpa sengaja aku melihat wajahku sendiri di sana, cepat – cepat aku mengalihkan pandanganku, lalu memejamkan mata, berharap Jung Songsaenim tidak memperhatikannya. Aku menggigit bibir bawahku keras – keras agar air mata yang tidak bergulir jatuh ke pipiku.

“Apakah kau masih bermimpi buruk tentang Kwangmin?”

DEG. Aku berusaha untuk tidak mengingatnya lagi, mimpi buruk itu lagi. Saat Kwangmin saudara kembarku, adikku yang paling ku sayangi, dengan mata kepala lu sendiri meninggal di depanku. Ingatan – ingatan menyedihkan itu kembali datang dengan sendirinya, seperti film yang berputar di depan ku.

Saat itu kami berdua tengah berjalan pulang menuju ke rumah kami, seperti biasanya, Kwangmin melontarkan kata – kata konyol hanya untuk menghiburku. Ia memang selalu seperti itu, dengan senyum yang selalu terpampang di wajahnya yang identik dengan ku, berusaha untuk selalu membuat ku tertawa.

Di ujung jalan aku melihat ada segerombolan namja berandalan baru berjalan ke arah kami dengan sempoyongan, seketika perasaan ku menjadi tidak enak. Aku meraih lengan Kwangmin, berniat untuk berbalik arah menghindari mereka, preman – preman yang terkenal suka membuat onar dan mencuri. “Kwang, kita lewat jalan lain saja..” kataku pelan. Kwangmin yang mengetahui maksud pembicaraanku hanya mengangguk. Kami bukannya takut untuk menghadapi mereka, kami hanya tak mau berurusan dengan mereka, apalagi ketua mereka yang terkenal sangat sadis, Kangin.

“Hei, tunggu..!!” salah satu dari berandalan itu berteriak ke arah kami, salah satu dari mereka yang masih agak sadar.

“Ayo.. “ kataku lagi. “jangan pedulikan mereka”

Tapi terlambat, jarak kami dengan mereka sangat dekat sekarang, mustahil untuk lari, apalagi kami kalah banyak, kami di kepung. Bau alkohol yang tajam menyeruak dari mulut dan badan mereka, membuat ku mual. Salah satu dari mereka yang meneriaki kami tadi maju ke depan, menatap aku dengan mata merahnya sambil menyeringai memperlihatkan gigi – gigi nya yang kuning.

“Mau kemana kau?? Kau tidak akan bisa kabur dari kami, hahaha..” namja brengsek itu dan gerombolannya yang mabuk terkekeh. Aku melirik Kwangmin yang berdiri di sampingku dengan pandangan was – was, pikiranku berputar mencari jalan keluar.

“Serahkan barang – barang kalian, kalau tidak..” orang itu mengeluarkan pisau lipat dari saku jeans kumalnya, matanya masih tak lepas memandangi tas kami.

Aku melepas tas ku, lalu melemparkannya kea rah nya, tepat mengenai kakinya. Ku rasakan Kwangmin makin mendekat kearahku. “Hyung..” bisiknya. Aku masih menggenggam lengannya kuat – kuat, membagi kekuatan.

“Hei.. orang itu juga..”

Kwangmin mengikutiku, melempar tas birunya, tas itu mendarat di sebelah tas merah ku. Preman – preman itu mulai membuka tas kami, dan menuang isinya ke tanah.

“Kwangmin, dengarkan aku baik – baik, pada hitungan ke tiga kita lari..” Aku memberi aba – aba kepada Kwangmin, masih memperhatikan berandalan itu dan berusaha untuk tidak melihat pisau lipatnya yang berkilau tertimpa matahari sore.

“Hana, dul, set..” Aku dan Kwangmin berlari sekuat tenaga kami, aku menolehkan kepalaku, melihat mereka mulai menyadari bahwa isi tas kami tidak ada yang berharga selain buku – buku. Ketika melihat kami lari, ia mengejar kami. Ternyata acara mabuk tadi hanya pura – pura. Aku merasakan laju lari kami mulai lambat, paru – paru ku rasanya hampir meledak. Entah berapa lama kami lari seperti ini. Lalu aku menarik Kwangmin di salah satu gang, bersembunyi di belakang tong sampah besar.

Napas kami tersengal – sengal kelelahan, kemudian aku melihat mereka melewati kami. Aku menahan napas, tak berani bersuara sedikitpun. Sialnya, salah satu dari mereka melihat kami. Ia berteriak memanggil rombongannya. Arrrgh.. Sebenarnya apa yang mereka harapkan dari remaja seperti kami. Lelaki itu mendekat, mengeluarkan pisau lipat tadi, lalu mengarahkannya pada perutku, aku hanya bisa pasrah, jika Tuhan mau mengambil nyawa ku sekarang.

Kejadiannya terasa begitu cepat, seperti kereta express yang melaju di hadapanku, semuanya terasa di percepat. Tiba – tiba Kwangmin sudah berdiri di depanku, kemudian ia roboh, pisau itu masih tertancap di perutnya, darah segar mengalir dari perutnya terus – menerus. Melihat hal itu, pria sialan itu kabur.

“Kwangmin-ah.. Kwangmin…” Aku mengangkat tubuh kurusnya itu ke punggung ku, aku menggendongnya sambil berlari. Air mata ku tak henti – hentinya mengalir. Yang ada di pikiranku sekarang adalah keselamatan adik kembarku ini. Aku merasa sebagai hyungnya aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku hyung nya yang tidak berguna.

“Bertahanlah sedikit lagi Kwangmin-ah, kau tidak boleh tidur.. Ayo bangun”

“H.. hyung.. a..aku.. minta maaf...” suara Kwangmin memelan, hembusan napasnya dan detak jantungnya semakin lemah. Wajah Kwangmin makin terlihat pucat

“Kwangmin-ah.. sudah kubilang jangan tidur dulu.. Bangun!! Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit..”Tidak peduli sudah berapa jauh aku berlari, yang ada di pikaranku hanya harapan bahwa dia, adik kembarku satu – satunya untuk hidup.

TBC

#bow maaf ya kalo gaje, bahasa aneh, typo dimana - mana :)) Ditunggu komentarnya

Comments

  1. Replies
    1. Maaf ya chingu baru liat soalnya kalo ada komentar, jeongmal gomawoyo udah RCL FF ini, pasti dilanjut kok, sabar yaa :))

      Delete

Post a Comment

Popular Posts